Jumat, 17 Juli 2015

Fanfiction: Its strange, but it is Love



Heyaaa ini cerita pertama FireFly di Blog ini... /o/ Banzaiii
Well meskipun ini Fanfiction sih, pinjem karakternya Kishimoto-sensei ahhahaha
OTP-ku Sasuke dan Sakura lol
Kalau ndak suka sih jangan baca .-. 
Well, selamat membaca~

                Sakura POV

                Aku memang mencintainya, matanya yang sekelam malam yang seolah-olah akan menyerap seluruh kesadaran yang kau miliki untuk masuk ke dalamnya. Aku suka nada bicaranya yang teramat dingin itu, karena terkadang di dalamnya sarat akan perhatian. Aku suka sifatnya yang terkesan cuek namun tersempil perhatian kecil di setiap tindakannya, Aku, Haruno Sakura, memendam perasaan ini pada pemuda yang kini ada di depanku, Uchiha Sasuke, semenjak taman kanak-kanak hingga kami masing-masing bekerja.
                Dia bekerja di perusahaan miliknya yang--entah sebuah keberuntungan, ataukah kesialan--berada tepat di depan rumah sakit tempatku bekerja. Sasuke menyukai cafe yang ada di rumah sakit tempatku bekerja ini, membuatnya setiap hari makan siang bersamaku di cafe ini. Sebenarnya aku tahu kenapa dia menyukai cafe ini, karena gadis yang disukainya pun hampir setiap siang makan di cafe ini. Oh, jangan harap itu diriku... Bukan, sayangnya bukan. Gadis yang beruntung itu adalah Uzumaki Karin, sepupu teman terbaik kami, Uzumaki Naruto.


                Ngomong-ngomong soal Naruto, kini istrinya, Uzumaki Hinata, tengah hamil lima bulan. Mereka sering datang ke tempatku, tentu karena aku adalah dokter Hinata. Dokter spesialis kandungan, itulah profesiku di sini.
                "Dia sedang bicara apa?" Suara maskulin Sasuke membuyarkan lamunanku, untuk menghilangkan keterkejutanku kuseruput teh hijau yang semenjak tadi kupandangi. Kuangkat bahuku sebagai respon akan pertanyaan Sasuke, menandakan bahwa aku sendiri tidak tahu. Kuletakkan cangkir tehku ke atas meja, tatapanku memandang lurus Salad buah tepat di samping cangkir tehku. Aku sama sekali tidak berselera makan, padahal tadi saat memasuki cafe ini perutku meminta makanan. Ah, kalian heran kenapa Sasuke bisa ada di sini makan siang bersamaku? Jawabannya hanya satu. Memandangi Karin, ya, Sasuke menggunakanku sebagai 'cover' agar bisa leluasa memandangi Karin yang merupakan wanita yang ditaksirnya saat ini. Tapi jangan salah sangka, aku tidak nafsu makan secara tiba-tiba bukan karena hal ini. Semenjak aku menyadari aku tak bisa bersama pemuda ini aku telah merelakannya.

                Semenjak aku menyadari dia tak akan pernah menganggapku lebih dari sekedar sahabat aku mulai bertekad untuk melupakan rasa cintaku. Tapi sayang, tekad dan perasaan tidak bisa sejalan. Meski aku telah bertekad tapi perasaanku berkata lain, semakin lama aku semakin mencintai pemuda ini. Tapi kini aku sudah bisa merelakannya, karena aku memiliki hal lain yang akan kucintai seumur hidupku.

                "Makan"

                Lagi-lagi suara itu menyadarkanku dari lamunanku, kembali kuseruput tehku yang kini tinggal seperempat saja. "Aku sudah tak lapar, hei bukankah kau harus kembali ke kantormu?" kutolehkan kepalaku ke belakang--tempat di mana karin duduk--dan kudapati kursi itu telah kosong "Dan lagi karin sudah pergi tuh."

                "Hn" Dia hanya menatapku tajam, sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa dia akan kembali ke kantornya.

                "Oh, baiklah..." Aku mulai mencomot salad buahku, kalau sedang tidak nafsu makan seperti ini pada akhirnya makanan ini juga akan keluar nanti. Tapi aku sedang tak ingin berdebat dengannya, jadi tak ada pilihan lain selain memakannya dan mencoba untuk tidak muntah pada saat itu juga.

                Dulu perhatian kecil seperti inilah yang membuatku senang dan akan tersenyum selama seharian, tapi itu dulu, sekarang? Sudah tidak. Kenapa? Karena aku tahu perhatian itu diberikannya padaku hanya karena aku sahabatnya, tidak lebih dari itu. Baginya kami hanya sepasang sahabat tidak akan pernah lebih dan tidak akan pernah kurang dari itu. Kenapa bisa? Sewaktu SMA dulu Naruto pernah menanyakannya, menanyakan perasaan Sasuke terhadapku karena penasaran dan jawabnya adalah 'Sakura sama seperti dirimu, sahabatku takkan bisa lebih dari itu' Dan semenjak saat itulah kucoba merelakan Sasuke.

                Setelah kupaksakan diriku menghabiskan salad buah itu, kuminum segera air putih yang ada di meja--entah milik siapa--agar tidak memuntahkan salad itu. "Nah sudah.. aku sebaiknya kembali, banyak yang menungguku" Ujarku sambil mulai berdiri dari kursiku namun tertahan oleh tangan Sasuke yang memegang tanganku. Dengan sebuah senyum kusingkirkan tangannya perlahan dari tanganku "Aku tak apa kok.. tenang saja.. sampai nanti..."

                Kulangkahkan kakiku ke kasir, setelah selesai membayar aku melangkah ke pintu yang menghubungkan cafe dengan rumah sakit. Kulambaikan tanganku pada Sasuke yang masih terdiam di tempatnya dan memandangku. Kulangkahkan kakiku menuju lift dan menekan tombol lima, setelah beberapa saat lift terbuka di lantai lima ,tempat ruanganku berada.

                Hari telah semakin sore, matahari perlahan tenggelam menyebabkan langit berwarna orange. Kusandarkan punggungku pada sandaran kursiku yang lumayan empuk, kutolehkan wajahkku ke samping memandang langit sore sembari mengelus-elus perutku perlahan. Sebentar lagi aku akan menjadi single parent, aku merasa senang karena sebentar lagi aku akan menjadi ibu. Senang tapi juga sedih, sedih karena bayiku nantinya tidak akan memiliki seorang ayah. Kenapa? Karena ayah bayi ini tidak tahu akan keberadaannya dan aku sama sekali tidak berniat memberitahukannya. Aku yakin ayah bayi ini takkan pernah mengetahui keberadaannya, kejam dan sedih memang, tapi aku lebih menyukai keadaan ini.
                Kenapa yakin? Karena aku sebentar lagi akan pergi jauh. Rumah sakit tempatku bekerja sedang menjalin kerjasama dengan rumah sakit di Amerika dan sebentar lagi aku akan berangkat kesana. Dua hari lagi tepatnya, sebenarnya masih lumayan lama hingga program kerjasama itu dijalankan namun dengan dalih 'ingin dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan disana' membuatku bisa berangkat lebih awal. Ah, berapa usia kandunganku? Lima bulan, dan untungnya badanku kecil dan perutku belum benar-benar membesar jadi belum ada seorangpun yang tahu mengenai kehamilanku ini.
                Puas memandangi langit dari kantorku kubereskan barang-barang dan mulai bersiap-siap pulang. Aku berencana mampir ke restoran kesukaanku sepulang nanti, Restoran Cytherea. Namanya berarti dewa cinta, dan sesuai dengan namanya restoran itu penuh dengan pasangan dan sangat romantis.

                "..."
                Iris emeraldku menemukan sepasang manusia yang sangat kukenal baru saja memasuki restoran, Sasuke dan Karin. Mereka bergandengan tangan memasuki restoran ini, terlihat sangat mesra. Tak kusangka akan bertemu mereka. "Sakura-Senpai!" Seru karin yang melihatku duduk sendirian, kusunggingkan senyum dan kubalas sapaannya dengan lambaian tanganku--hei!bukannya sebal tapi mulutku penuh makanan!
                Keduanya menghampiriku dan setibanya di depan mejaku menatapku dengan heran, karena melihat makanan yang terdapat di mejaku. "Aku lapar, tadi siang belum makan hehe.." Jawabku setelah kutelan steak yang ada di mulutku. Wajar saja mereka heran, aku sendirian sedangkan makanan yang di meja cukup untuk makan dua orang dewasa ditambah seorang anak kecil mungkin?
                "Daripada melihatku sebaiknya kalian ke meja kalian sana, aku tidak ingin menganggu kalian" Kukerlingkan sebelah mataku menggoda Karin, bisa kutebak mereka baru saja jadian. Sakit hati? Sedikit tapi aku sudah merelakannya. Wajah karin memerah malu dan akhirnya mereka ke meja yang sudah disediakan untuk mereka.
                Kumakan perlahan makanan yang masih ada, tak ingin terburu-buru. Karena ini terakhir kalinya aku akan makan di restoran ini. Besok aku akan sibuk mengurus barang-barangku dan besoknya lagi aku sudah akan berangkat, jadi sebisa mungkin aku ingin mengingat restoran ini di dalam ingatanku.

                Sudah lumayan lama aku duduk di kursiku, untung saja pemilik restoran ini dan para pelayannya telah mengenalku, jadi mereka tidak mempermasalahkan betapa lamanya aku duduk di situ meski aku telah menyelesaikan makanku. Kulihat jam tanganku, jam 6.30 sudah satu jam lebih aku di restoran itu dan ini saatnya aku kembali ke rumah beristirahat. Saat hendak kubayar makananku petugas kasir bilang sudah di bayar oleh Sasuke--mereka memang telah mengenalku dan Sasuke--tadi. Mungkin dia mentraktirku karena berhasil berkencan dengan karin, atau apalah itu aku berusaha untuk tidak terlalu peduli. Aku melangkah perlahan menuju apartemenku yang berjarak sekitar 30 menit dari restoran ini, menikmati setiap sudut pemandangan yang akan kurindukan nanti, yah beberapa hari lagi keberangkatanku sih… 

"Hei Saku! Kau lama sekali!!" 
Iris emeraldku memandang kearah halaman  gedung apartemenku, kutemukan Sasuke yang saat  ini tengah berjalan cepat ke arahku. Aku hanya tersenyum memandanginya, saat dirinya sampai di depanku baru kubalas perkataannya tadi. "Yah... kan aku ingin menikmati suasana lingkunganku.." Kulanjutkan langkahku menuju apartemenku dengan santai, “Lagipula sebaiknya kau segera kembali ke apartemenku sendiri, lihat Karin sudah tidak sabar menjunggu..” Kulambaikan tanganku ke atas saat melihat Karin mengawasi kami dari kamar apartemen Sasuke. Apartemen kami memang sama ditambah bersebelahan pula, dan aku heran kenapa Sasuke mau repot-repot tinggal di apartemen biasa dibandingkan tinggal di apartemen mewah milik kakaknya.
Kulirik Sasuke yang wajahnya sedikit memerah, hanya guratan kecil tentu saja. Kalau kau tidak mengenalnya sebaik Sakura dan Naruto pasti tidak menyadari guratan kecil itu. Anehnya Sasuke tidak segera bergegas malah menyamakan langkahnya dengan langkah kakiku yang lumayan lambat, aku tersenyum kecil atas perhatian aneh darinya lumayan senang sih.
‘v’
Kubuka mataku ditengah kegelapan malam, kulirik jam yang bertengger diatas meja di samping tempat tidurku. Pukul 1 dini hari, lagi-lagi aku terbangun dipagi buta. Kulangkahkan kakiku ke kulkas dan mengambil beberapa buah tomat dan menuang segelas susu. Aku berjalan kearah balkon dan duduk di kursi yang ada di balkon apartemenku, kuletakan gelas yang berisi susu dan mulai memakan tomat sambil memandang bulan yang tertutup awan setengahnya. Entah telah berapa jam aku hanya diam ditera memandang bulan sambil memakan tomat dan meminum segelas susu.
“Kau tidak bisa tidur lagi?”
Sebuah suara maskulin mengagetkanku, kalau saja gelas yang kupegang ini masih penuh apsti sudah tumpah dan… sejak kapan Sasuke duduk di terasku juga?
“Aku mendengar suara pintu terbuka” Ujarnya singkat, yah mungkin Sasuke khawatir terjadi sesuatu padaku. Sasuke tahu kebiasaanku tidak mengunci pintu yang memisahkan balkon dan kamarku sih. “Kau suka tomat? Sejak kapan?”
“Aku mengantuk…” Sengaja tak kugubris pertanyaan Sasuke yang terakhir,dan hanya Tuhan dan Sakura yang tahu mengapa dirinya berbuat seperti itu. “Selamat malam…” Tanpa menunggu jawaban Sasuke dirinya kembali ke kamarnya dan berusaha tidur, meski dia tahu seperti biasanya Sakura tidak akan bisa tertidur dengan cepat.
…..                                    
……….
…………..
“Hoek… hoek…” Belum juga Sakura tertidur dengan nyenyak dirinya sudah harus bangun dan berlari ke kamar mandi untuk mengahadapi morning sickness-nya. Sakura sudah terbiasa, lagipula sudah tiga bulanan dia mengalami hal ini dan mungkin masih akan sering dialaminya nanti. Indera pendengarannya menangkap suara pintu balkonnya terbuka, Mei bisa menebak siapa yang datang dengan tergesa-gesa. Sakura segera berdiri dan berjalan dengan santai ke dapur, berniat  mengambil segelas susu berharap bisa meredakan rasa ingin muntahnya yang setiap pagi mendera.
“Sakura sungguh kau tak ingin memeriksakan diri?” Sasuke datang  dengan pakaian kantornya yang berantakan, mungkin dia mendengar Sakura muntah dan segera berlari kemari melalui balkon.
“Tidak Sasuke… Sudah berapa kali kubilang? Aku baik-baik saja dan ini hanya karena susu yang dini pagi tadi kuminum seperti biasanya?”
“Kalau begitu hentikan kebiasaanmu minum susu di pagi hari”
“Kalau aku tidak minum susu aku tidak bisa kembali tidur Sasuke…sudahlah sana ke kantor” Sakura capek mengulang perkataan yang sama setiap paginya, mengulangi kebohongan yang sama. Tapi dirinya tidak perlu berbohong lagi, sebentar lagi Sakura bisa bernafas lega. Malam ini dia akan berangkat ke Amerika, hari ini Sakura sudah bebas tugas dan bisa menikmati waktu bebasnya hingga akan berangkat malam ini, terkesan buru-buru memang tapi Sakura sudah ingin pergi dari Jepang. Sebentar lagi saja di sini Sakura tidak yakin bisa merahasiakan kondisinya yang pasti sebentar lagi akan terlihat sedikit gemuk. Sakura tidak yakin bisa mencari alasan yang tepat mengenai bobotnya yang bertambah itu nanti. Kuminum susu yang tadi kutuang selama debat kecil kami, belum sempat kuminum setetes gelas itu telah menjauhi birbiku.
“Sudah kubilang hentikan kebiasanmu minum Saku.”
“…”
Kupandang Sasuke dengan kesal, memangnya siapa dirinya bisa mengatur seenaknya? Ingin sekali kukatakan tapi kutahan, Sakura tidak ingin kejadian beberapa tahun lalu ketika mereka kuliah terulang. Pernah sekali Sakura kesal dan mengatakan hal itu di depan Sasuke ketika Sakura dilarang pacaran dengan lelaki yang memang ternyata brengsek, pada saat itu Sasuke menghilang dari hadapan Sakura selama beberapa hari dan tidak memperdulikan Sakura sama sekali. Hal itu membuat Sakura gila tentu saja, dan beruntung Sasuke mau memaafkannya. Oleh karenanya saat ini Sakura lebih memilih diam, lagipula Sakura tidak ingin membuat masalah karena sebentar lagi keberangkatnya. Sakura hanya bisa memandangi Sasuke yang membuang susunya ditempat cuci piring, semua susunya. Ya… Semua berarti semua, yang ada dikulkas pun juga dan Sakura hanya bisa menghela nafas melihatnya.

“Baiklah… sudah sana ke kantor, aku akan pergi berjalan-jalan sebentar lagi dan menemui teman-teman…”
“Hati-hati…” Ujarnya sebelum kembali ke kamarnya melalui balkon kamar Sakura.
Terkadang dirinya heran kenapa bisa Sasuke melakukan semua itu, semua hal yang menunjukan bahwa Sasuke sangat memperhatikannya, menyayanginya seperti kekasih tapi Sasuke selalu menegaskan bahwa mereka tidak bisa lebih dari sekedar kawan, sahabat. Sasuke selalu membuat Sakura tidak bisa lepas darinya tapi juga tidak bisa memilikinya…
“Curang…”
‘v’
“Bagaimana kandunganmu Hinata? Naruto pasti tidak sabar untuk mengetahui jenis kelamin bayimu itu..”
Sakura, hinata, ino dan Tenten tengah berbincang-bincang disebuah café di daerah Shibuya. Kumpul-kumpul sebelum Sakura pergi berangkat esok hari, kenapa perlu kumpul-kumpul? Karena Sakura sama sekali tidak berniat untuk memberitahukan mereka kapan Sakura berangkat, Sakura tidak ingin menangis disaat keberangkatannya sih.
“Tapi menurutku laki-laki ataupun perempuan tetap akan membuat si kepala kuning itu berteriak kesenangan…” Timpal Ino sambil menyikut hinata yang duduk di sampingnya.
“Naruto memang seperti itu sih aahahaha” Giliran tenten yang berbicara dengan lantangnya. Hinata hanya menunduk malu dengan mata memerah.
“Sudah-sudah, kasihan Hinata….”
“Kau yang memulai duluan Sakura..” Ino memandangku tajam, tidak setuju akan perkataanku yang seakan menuduh itu perbuatan ino dan Tenten. Aku hanya tertawa menanggapinya dan mulailah percakapan kami, mengenai kapan Sai akan melamar Ino, Neji yang kapan akan menyatakan perasaannya pada Tenten dan juga Lee yang sampai kapan mengejarku yang jelas-jelas hanya kuanggap sebagai teman saja. Aku tidak membenci Lee hanya saja semangat masa mudanya dan err.. alisnya sedikit membuatku memandangnya dengan dahi mengkerut hahaha…
Hari sudah semakin sore dan aku pun pamit pada mereka, dengan alasan ingin membereskan kamarku yang sebenarnya sudah selesai kubereskan bahkan sudah ku kirim tadi pagi. Hanya beberapa barang saja yang hendak kubawa lainnya aku meminta ibuku untuk membereskannya dan membawanya pulang atau menyumbangkannya.
“Kapan Sakura akan berkata jujur pada kita ya?” Tanya Ino sambil menghela nafas saat melihat sosok Sakura yang telah menghilang di keramaian jalan.
“Nanti juga dia akan mengatakannya pada kita… pasti…” Hinata memandang Sakura nanar.
“Tapi siapa ayahnya ya? Setahuku Sakura tidak sedang berkencan dengan siapapun… dilihat dari Sasuke yang selalu posesif padanya…” Mereka bertiga saling berpandangan bingung dan hanya bisa mengangkat bahu.
“Kalian bilang apa?” Ketiganya menoleh kebelakang dan mendapati Sasuke dengan wajah yang aneh.
 “Siapa ayahnya? Tentu saja pria berambut Sakura itu kan?” Timpal Naruto yang mendekati Hinata dan mencium kepalanya. Ino dan Hinata hanya diam saja, bngung akan berkata apa.
“Maksudku anak yang ada di perut Saku—uhuk” Ino menyikut perut Tenten untuk membuatnya diam, sayang Sasuke sudah membatu. Kalau Saja para fansnya melihatnya pasti mereka akan pingsan melihat Sasuke yang tidak bisa dibilang keren ini.
“Dasar bodoh…” Bisik Ino, dirinya sedikitnya paham sebenarnya mengapa Sakura memilih diam mengenai kehamilannya.
“Ooh…… APAA? Sakura hamiil?!” Naruto terdiam sesaat bingung akan info yang baru saja ia dapatkan.. “Sakura tidak berkencan dengan siapapun… siapa ayahnya? Siapa?” Naruto selalu menjadi teman curhat Sakura dan dirinya yakin bahwa Sakura sedang tidak berkencan dengan siapapun.
“Naruto-kun.. Sasuke-san duduklah dulu akan kami jelaskan setahu kami..” Ujar hinata dengan suaranya yang lembut, keduanya pun duduk di depan mereka dan Hinata mulai menjelaskannya.
“Sebenarnya kamu juga tidak tahu siapa ayah bayi yang dikandung Sakura… Sakura sendiri belum bilang bahwa dia hamil itu hanya…” Hinata terdiam dan memikirkan mengapa mereka mengetahui kondisi Sakura, hal itu sebenarnya.. “Intuisi Wanita mungkin? Kami diam saja dan menunggu Sakura bilang sendiri pada kami… mungkin sebelum Sakura berangkat ke Amerika dua hari lagi Sakura akan mengatakannya pada kami?”
“Tapi entah mengapa aku merasa Sakura tidak akan mengatakannya…”
Sasuke segera berdiri dan membuka handphone miliknya, berusaha menghubungi Sakura sayangnya gagal. Tanpa pikir panjang Sasuke berlari ke stasiun terdekat dan membeli tiket ke stasiun dekat apartemennya.
‘v’
Sepulang dari café itu Sakura tidak segera pulang ke apartemennya, Sakura tidak akan lagi kembali ke apartemennya.  Sakura membuka loker sewaan yang ada di stasiun, mengambil tas jinjing besar miliknya yang berisi pakaian dan segera mencari taksi yang akan membawanya ke bandara. Sakura segera menuju ke Bandara karena sebentar lagi jam keberangkatannya, dan semuanya akan berakhir.
Sakura menyandarkan bahunya di kursi penumpang, menghela nafas panjang berkali-kali. Memainkan ponsel miliknya, melihat-lihat foto kenangannya dengan Sasuke dan Naruto dan juga kawan-kawannya yang lain. Ini memang bukan perpisahan… hanya saja Sakura tidak yakin kapan dirinya bisa menemui mereka lagi karena keadaannya akan menyulitkannya. Sakura belum berani mengungkapkan fakta dirinya hamil, meski sebenarnya bukan kehamilannya yang ia takutkan untuk diberitakan. Hanya saja pertanyaan ‘siapa Ayahnya?’-lah yang Sakura takut untuk beritahukan pada mereka. Sakura takut ayah bayinya menyuruhnya menggugurkannya atau malah menikahinya hanya karena merasa bertanggung jawab. Sakura tidak bisa tersiksa karena pernikahan yang didasarkan dengan keterpaksaan, Sakura lebih memilih menjadi single parent dibandingkan harus menikah karena terpaksa. Lagipula kehamilannya ini bisa dibilang tindakan curang Sakura yang merasa… putus asa.
“Nona kita sudah sampai”
Sakura mengeluarkan beberapa lembar yen dan menyerahkannya pada pemngemudi taksi itu, “Simpan saja kembaliannya, terimakasih…”
Dirinya keluar dari taksi dan berjalan dengan mantap kedaerah keberangkatan. Sakura mematikan ponselnya dan mulai berjalan pergi kearah pesawatnya yang beberapa menit lagi akan berangkat. Dirinya akan memulai hidup baru di sana, di Amerika dan akan berada disana untuk waktu yang lama.
“Semuanya akan berakhir… selamat tinggal…”

Dan Sakura tidak akan pernah menyesali keputusannya, keputusannya meninggalkan ayah bayinya, naruto, hinata dan kawan-kawannya yang lain. Kejam memang, tapi itulah yang Sakura pilih untuk masa depannya. Masa depan bersama bayinya, bayi perempuan—menurut firasat Sakura—nya yang pastinya akan secantik Sakura.
End.

Menggantung? Yah memang…
Ingin dilanjut? Kalau ada yang mau silahkan coment dan akan di pertimbangkan olehku waahahahahaha



3 komentar:

  1. Balasan
    1. Belum hahahaha
      Lupa akun ples password

      Lanjutannya ya...
      *ubek2 archive*
      Sabar ya nanti di post waktunya sih...
      nantikan saja *kabur sebelum dikeroyok massa*
      ttd, fire-fly

      Hapus