Heyaaa ini cerita pertama FireFly di Blog ini... /o/ Banzaiii
Well meskipun ini Fanfiction sih, pinjem karakternya Kishimoto-sensei ahhahaha
OTP-ku Sasuke dan Sakura lol
Kalau ndak suka sih jangan baca .-.
Well, selamat membaca~
Sakura POV
Aku memang mencintainya, matanya yang sekelam malam
yang seolah-olah akan menyerap seluruh kesadaran yang kau miliki untuk masuk ke
dalamnya. Aku suka nada bicaranya yang teramat dingin itu, karena terkadang di
dalamnya sarat akan perhatian. Aku suka sifatnya yang terkesan cuek namun
tersempil perhatian kecil di setiap tindakannya, Aku, Haruno Sakura, memendam
perasaan ini pada pemuda yang kini ada di depanku, Uchiha Sasuke, semenjak
taman kanak-kanak hingga kami masing-masing bekerja.
Dia bekerja di perusahaan miliknya yang--entah sebuah
keberuntungan, ataukah kesialan--berada tepat di depan rumah sakit tempatku
bekerja. Sasuke menyukai cafe yang ada di rumah sakit tempatku bekerja ini,
membuatnya setiap hari makan siang bersamaku di cafe ini. Sebenarnya aku tahu
kenapa dia menyukai cafe ini, karena gadis yang disukainya pun hampir setiap
siang makan di cafe ini. Oh, jangan harap itu diriku... Bukan, sayangnya bukan.
Gadis yang beruntung itu adalah Uzumaki Karin, sepupu teman terbaik kami,
Uzumaki Naruto.
Ngomong-ngomong soal Naruto, kini istrinya, Uzumaki
Hinata, tengah hamil lima bulan. Mereka sering datang ke tempatku, tentu karena
aku adalah dokter Hinata. Dokter spesialis kandungan, itulah profesiku di sini.
"Dia sedang bicara apa?" Suara maskulin Sasuke
membuyarkan lamunanku, untuk menghilangkan keterkejutanku kuseruput teh hijau
yang semenjak tadi kupandangi. Kuangkat bahuku sebagai respon akan pertanyaan
Sasuke, menandakan bahwa aku sendiri tidak tahu. Kuletakkan cangkir tehku ke
atas meja, tatapanku memandang lurus Salad buah tepat di samping cangkir tehku.
Aku sama sekali tidak berselera makan, padahal tadi saat memasuki cafe ini
perutku meminta makanan. Ah, kalian heran kenapa Sasuke bisa ada di sini makan
siang bersamaku? Jawabannya hanya satu. Memandangi Karin, ya, Sasuke
menggunakanku sebagai 'cover' agar bisa leluasa memandangi Karin yang merupakan
wanita yang ditaksirnya saat ini. Tapi jangan salah sangka, aku tidak nafsu
makan secara tiba-tiba bukan karena hal ini. Semenjak aku menyadari aku tak
bisa bersama pemuda ini aku telah merelakannya.
Semenjak aku menyadari dia tak akan pernah
menganggapku lebih dari sekedar sahabat aku mulai bertekad untuk melupakan rasa
cintaku. Tapi sayang, tekad dan perasaan tidak bisa sejalan. Meski aku telah bertekad
tapi perasaanku berkata lain, semakin lama aku semakin mencintai pemuda ini.
Tapi kini aku sudah bisa merelakannya, karena aku memiliki hal lain yang akan
kucintai seumur hidupku.
"Makan"
Lagi-lagi suara itu menyadarkanku dari lamunanku,
kembali kuseruput tehku yang kini tinggal seperempat saja. "Aku sudah tak
lapar, hei bukankah kau harus kembali ke kantormu?" kutolehkan kepalaku ke
belakang--tempat di mana karin duduk--dan kudapati kursi itu telah kosong
"Dan lagi karin sudah pergi tuh."
"Hn" Dia hanya menatapku tajam, sama sekali
tidak ada tanda-tanda bahwa dia akan kembali ke kantornya.
"Oh, baiklah..." Aku mulai mencomot salad
buahku, kalau sedang tidak nafsu makan seperti ini pada akhirnya makanan ini
juga akan keluar nanti. Tapi aku sedang tak ingin berdebat dengannya, jadi tak
ada pilihan lain selain memakannya dan mencoba untuk tidak muntah pada saat itu
juga.
Dulu perhatian kecil seperti inilah yang membuatku
senang dan akan tersenyum selama seharian, tapi itu dulu, sekarang? Sudah
tidak. Kenapa? Karena aku tahu perhatian itu diberikannya padaku hanya karena
aku sahabatnya, tidak lebih dari itu. Baginya kami hanya sepasang sahabat tidak
akan pernah lebih dan tidak akan pernah kurang dari itu. Kenapa bisa? Sewaktu
SMA dulu Naruto pernah menanyakannya, menanyakan perasaan Sasuke terhadapku
karena penasaran dan jawabnya adalah 'Sakura sama seperti dirimu, sahabatku
takkan bisa lebih dari itu' Dan semenjak saat itulah kucoba merelakan Sasuke.
Setelah kupaksakan diriku menghabiskan salad buah
itu, kuminum segera air putih yang ada di meja--entah milik siapa--agar tidak
memuntahkan salad itu. "Nah sudah.. aku sebaiknya kembali, banyak yang
menungguku" Ujarku sambil mulai berdiri dari kursiku namun tertahan oleh
tangan Sasuke yang memegang tanganku. Dengan sebuah senyum kusingkirkan
tangannya perlahan dari tanganku "Aku tak apa kok.. tenang saja.. sampai
nanti..."
Kulangkahkan kakiku ke kasir, setelah selesai
membayar aku melangkah ke pintu yang menghubungkan cafe dengan rumah sakit. Kulambaikan
tanganku pada Sasuke yang masih terdiam di tempatnya dan memandangku.
Kulangkahkan kakiku menuju lift dan menekan tombol lima, setelah beberapa saat
lift terbuka di lantai lima ,tempat ruanganku berada.
Hari telah semakin sore, matahari perlahan tenggelam
menyebabkan langit berwarna orange. Kusandarkan punggungku pada sandaran
kursiku yang lumayan empuk, kutolehkan wajahkku ke samping memandang langit
sore sembari mengelus-elus perutku perlahan. Sebentar lagi aku akan menjadi
single parent, aku merasa senang karena sebentar lagi aku akan menjadi ibu.
Senang tapi juga sedih, sedih karena bayiku nantinya tidak akan memiliki
seorang ayah. Kenapa? Karena ayah bayi ini tidak tahu akan keberadaannya dan
aku sama sekali tidak berniat memberitahukannya. Aku yakin ayah bayi ini takkan
pernah mengetahui keberadaannya, kejam dan sedih memang, tapi aku lebih
menyukai keadaan ini.
Kenapa yakin? Karena aku sebentar lagi akan pergi
jauh. Rumah sakit tempatku bekerja sedang menjalin kerjasama dengan rumah sakit
di Amerika dan sebentar lagi aku akan berangkat kesana. Dua hari lagi tepatnya,
sebenarnya masih lumayan lama hingga program kerjasama itu dijalankan namun
dengan dalih 'ingin dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan disana' membuatku
bisa berangkat lebih awal. Ah, berapa usia kandunganku? Lima bulan, dan
untungnya badanku kecil dan perutku belum benar-benar membesar jadi belum ada
seorangpun yang tahu mengenai kehamilanku ini.
Puas memandangi langit dari kantorku kubereskan
barang-barang dan mulai bersiap-siap pulang. Aku berencana mampir ke restoran
kesukaanku sepulang nanti, Restoran Cytherea. Namanya berarti dewa cinta, dan
sesuai dengan namanya restoran itu penuh dengan pasangan dan sangat romantis.
"..."
Iris emeraldku menemukan sepasang manusia yang sangat
kukenal baru saja memasuki restoran, Sasuke dan Karin. Mereka bergandengan
tangan memasuki restoran ini, terlihat sangat mesra. Tak kusangka akan bertemu
mereka. "Sakura-Senpai!" Seru karin yang melihatku duduk sendirian,
kusunggingkan senyum dan kubalas sapaannya dengan lambaian
tanganku--hei!bukannya sebal tapi mulutku penuh makanan!
Keduanya menghampiriku dan setibanya di depan mejaku
menatapku dengan heran, karena melihat makanan yang terdapat di mejaku.
"Aku lapar, tadi siang belum makan hehe.." Jawabku setelah kutelan
steak yang ada di mulutku. Wajar saja mereka heran, aku sendirian sedangkan
makanan yang di meja cukup untuk makan dua orang dewasa ditambah seorang anak
kecil mungkin?
"Daripada melihatku sebaiknya kalian ke meja
kalian sana, aku tidak ingin menganggu kalian" Kukerlingkan sebelah mataku
menggoda Karin, bisa kutebak mereka baru saja jadian. Sakit hati? Sedikit tapi
aku sudah merelakannya. Wajah karin memerah malu dan akhirnya mereka ke meja
yang sudah disediakan untuk mereka.
Kumakan perlahan makanan yang masih ada, tak ingin
terburu-buru. Karena ini terakhir kalinya aku akan makan di restoran ini. Besok
aku akan sibuk mengurus barang-barangku dan besoknya lagi aku sudah akan
berangkat, jadi sebisa mungkin aku ingin mengingat restoran ini di dalam
ingatanku.
Sudah lumayan lama aku duduk di kursiku, untung saja
pemilik restoran ini dan para pelayannya telah mengenalku, jadi mereka tidak
mempermasalahkan betapa lamanya aku duduk di situ meski aku telah menyelesaikan
makanku. Kulihat jam tanganku, jam 6.30 sudah satu jam lebih aku di restoran
itu dan ini saatnya aku kembali ke rumah beristirahat. Saat hendak kubayar
makananku petugas kasir bilang sudah di bayar oleh Sasuke--mereka memang telah
mengenalku dan Sasuke--tadi. Mungkin dia mentraktirku karena berhasil berkencan
dengan karin, atau apalah itu aku berusaha untuk tidak terlalu peduli. Aku
melangkah perlahan menuju apartemenku yang berjarak sekitar 30 menit dari
restoran ini, menikmati setiap sudut pemandangan yang akan kurindukan nanti,
yah beberapa hari lagi keberangkatanku sih…
"Hei
Saku! Kau lama sekali!!"
Iris emeraldku memandang kearah halaman
gedung apartemenku, kutemukan Sasuke yang saat ini tengah berjalan
cepat ke arahku. Aku hanya tersenyum memandanginya, saat dirinya sampai di
depanku baru kubalas perkataannya tadi. "Yah... kan aku ingin menikmati
suasana lingkunganku.." Kulanjutkan langkahku menuju apartemenku dengan
santai, “Lagipula sebaiknya kau segera kembali ke apartemenku sendiri, lihat
Karin sudah tidak sabar menjunggu..” Kulambaikan tanganku ke atas saat melihat
Karin mengawasi kami dari kamar apartemen Sasuke. Apartemen kami memang sama
ditambah bersebelahan pula, dan aku heran kenapa Sasuke mau repot-repot tinggal
di apartemen biasa dibandingkan tinggal di apartemen mewah milik kakaknya.
Kulirik Sasuke yang wajahnya sedikit
memerah, hanya guratan kecil tentu saja. Kalau kau tidak mengenalnya sebaik
Sakura dan Naruto pasti tidak menyadari guratan kecil itu. Anehnya Sasuke tidak
segera bergegas malah menyamakan langkahnya dengan langkah kakiku yang lumayan
lambat, aku tersenyum kecil atas perhatian aneh darinya lumayan senang sih.
‘v’
Kubuka mataku ditengah kegelapan malam,
kulirik jam yang bertengger diatas meja di samping tempat tidurku. Pukul 1 dini
hari, lagi-lagi aku terbangun dipagi buta. Kulangkahkan kakiku ke kulkas dan
mengambil beberapa buah tomat dan menuang segelas susu. Aku berjalan kearah
balkon dan duduk di kursi yang ada di balkon apartemenku, kuletakan gelas yang
berisi susu dan mulai memakan tomat sambil memandang bulan yang tertutup awan
setengahnya. Entah telah berapa
jam aku hanya diam ditera memandang bulan sambil memakan tomat dan meminum
segelas susu.
“Kau tidak bisa tidur lagi?”
Sebuah suara maskulin mengagetkanku, kalau saja gelas yang kupegang ini
masih penuh apsti sudah tumpah dan… sejak kapan Sasuke duduk di terasku juga?
“Aku mendengar suara pintu terbuka” Ujarnya singkat, yah mungkin Sasuke
khawatir terjadi sesuatu padaku. Sasuke tahu kebiasaanku tidak mengunci pintu
yang memisahkan balkon dan kamarku sih. “Kau suka tomat? Sejak kapan?”
“Aku mengantuk…” Sengaja tak kugubris pertanyaan Sasuke yang terakhir,dan
hanya Tuhan dan Sakura yang tahu mengapa dirinya berbuat seperti itu. “Selamat
malam…” Tanpa menunggu jawaban Sasuke dirinya kembali ke kamarnya dan berusaha
tidur, meski dia tahu seperti biasanya Sakura tidak akan bisa tertidur dengan
cepat.
…..
……….
…………..
“Hoek… hoek…” Belum juga Sakura tertidur dengan nyenyak dirinya sudah harus
bangun dan berlari ke kamar mandi untuk mengahadapi morning sickness-nya. Sakura sudah terbiasa, lagipula sudah tiga
bulanan dia mengalami hal ini dan mungkin masih akan sering dialaminya nanti.
Indera pendengarannya menangkap suara pintu balkonnya terbuka, Mei bisa menebak
siapa yang datang dengan tergesa-gesa. Sakura segera berdiri dan berjalan
dengan santai ke dapur, berniat mengambil
segelas susu berharap bisa meredakan rasa ingin muntahnya yang setiap pagi
mendera.
“Sakura sungguh kau tak ingin memeriksakan diri?” Sasuke datang dengan pakaian kantornya yang berantakan,
mungkin dia mendengar Sakura muntah dan segera berlari kemari melalui balkon.
“Tidak Sasuke… Sudah berapa kali kubilang? Aku baik-baik saja dan ini hanya
karena susu yang dini pagi tadi kuminum seperti biasanya?”
“Kalau begitu hentikan kebiasaanmu minum susu di pagi hari”
“Kalau aku tidak minum susu aku tidak bisa kembali tidur Sasuke…sudahlah sana
ke kantor” Sakura capek mengulang perkataan yang sama setiap paginya,
mengulangi kebohongan yang sama. Tapi dirinya tidak perlu berbohong lagi,
sebentar lagi Sakura bisa bernafas lega. Malam ini dia akan berangkat ke Amerika,
hari ini Sakura sudah bebas tugas dan bisa menikmati waktu bebasnya hingga akan
berangkat malam ini, terkesan buru-buru memang tapi Sakura sudah ingin pergi
dari Jepang. Sebentar lagi saja di sini Sakura tidak yakin bisa merahasiakan
kondisinya yang pasti sebentar lagi akan terlihat sedikit gemuk. Sakura tidak
yakin bisa mencari alasan yang tepat mengenai bobotnya yang bertambah itu
nanti. Kuminum susu yang tadi kutuang selama debat kecil kami, belum sempat
kuminum setetes gelas itu telah menjauhi birbiku.
“Sudah kubilang hentikan kebiasanmu minum Saku.”
“…”
Kupandang Sasuke dengan kesal, memangnya siapa dirinya bisa mengatur
seenaknya? Ingin sekali kukatakan tapi kutahan, Sakura tidak ingin kejadian
beberapa tahun lalu ketika mereka kuliah terulang. Pernah sekali Sakura kesal
dan mengatakan hal itu di depan Sasuke ketika Sakura dilarang pacaran dengan
lelaki yang memang ternyata brengsek, pada saat itu Sasuke menghilang dari
hadapan Sakura selama beberapa hari dan tidak memperdulikan Sakura sama sekali.
Hal itu membuat Sakura gila tentu saja, dan beruntung Sasuke mau memaafkannya.
Oleh karenanya saat ini Sakura lebih memilih diam, lagipula Sakura tidak ingin
membuat masalah karena sebentar lagi keberangkatnya. Sakura hanya bisa
memandangi Sasuke yang membuang susunya ditempat cuci piring, semua susunya.
Ya… Semua berarti semua, yang ada dikulkas pun juga dan Sakura hanya bisa
menghela nafas melihatnya.
“Baiklah… sudah sana ke kantor, aku akan pergi berjalan-jalan sebentar lagi
dan menemui teman-teman…”
“Hati-hati…” Ujarnya sebelum kembali ke kamarnya melalui balkon kamar
Sakura.
Terkadang dirinya heran kenapa bisa Sasuke melakukan semua itu, semua hal
yang menunjukan bahwa Sasuke sangat memperhatikannya, menyayanginya seperti
kekasih tapi Sasuke selalu menegaskan bahwa mereka tidak bisa lebih dari
sekedar kawan, sahabat. Sasuke selalu membuat Sakura tidak bisa lepas darinya
tapi juga tidak bisa memilikinya…
“Curang…”
‘v’
“Bagaimana kandunganmu Hinata? Naruto pasti tidak sabar untuk mengetahui
jenis kelamin bayimu itu..”
Sakura, hinata, ino dan Tenten tengah berbincang-bincang disebuah café di
daerah Shibuya. Kumpul-kumpul sebelum Sakura pergi berangkat esok hari, kenapa
perlu kumpul-kumpul? Karena Sakura sama sekali tidak berniat untuk memberitahukan
mereka kapan Sakura berangkat, Sakura tidak ingin menangis disaat
keberangkatannya sih.
“Tapi menurutku laki-laki ataupun perempuan tetap akan membuat si kepala
kuning itu berteriak kesenangan…” Timpal Ino sambil menyikut hinata yang duduk
di sampingnya.
“Naruto memang seperti itu sih aahahaha” Giliran tenten yang berbicara
dengan lantangnya. Hinata hanya menunduk malu dengan mata memerah.
“Sudah-sudah, kasihan Hinata….”
“Kau yang memulai duluan Sakura..” Ino memandangku tajam, tidak setuju akan
perkataanku yang seakan menuduh itu perbuatan ino dan Tenten. Aku hanya tertawa
menanggapinya dan mulailah percakapan kami, mengenai kapan Sai akan melamar
Ino, Neji yang kapan akan menyatakan perasaannya pada Tenten dan juga Lee yang
sampai kapan mengejarku yang jelas-jelas hanya kuanggap sebagai teman saja. Aku
tidak membenci Lee hanya saja semangat masa mudanya dan err.. alisnya sedikit
membuatku memandangnya dengan dahi mengkerut hahaha…
Hari sudah semakin sore dan aku pun pamit pada mereka, dengan alasan ingin
membereskan kamarku yang sebenarnya sudah selesai kubereskan bahkan sudah ku
kirim tadi pagi. Hanya beberapa barang saja yang hendak kubawa lainnya aku
meminta ibuku untuk membereskannya dan membawanya pulang atau menyumbangkannya.
“Kapan Sakura akan berkata jujur pada kita ya?” Tanya Ino sambil menghela
nafas saat melihat sosok Sakura yang telah menghilang di keramaian jalan.
“Nanti juga dia akan mengatakannya pada kita… pasti…” Hinata memandang
Sakura nanar.
“Tapi siapa ayahnya ya? Setahuku Sakura tidak sedang berkencan dengan
siapapun… dilihat dari Sasuke yang selalu posesif padanya…” Mereka bertiga
saling berpandangan bingung dan hanya bisa mengangkat bahu.
“Kalian bilang apa?” Ketiganya menoleh kebelakang dan mendapati Sasuke
dengan wajah yang aneh.
“Siapa ayahnya? Tentu saja pria
berambut Sakura itu kan?” Timpal Naruto yang mendekati Hinata dan mencium
kepalanya. Ino dan Hinata hanya diam saja, bngung akan berkata apa.
“Maksudku anak yang ada di perut Saku—uhuk” Ino menyikut perut Tenten untuk
membuatnya diam, sayang Sasuke sudah membatu. Kalau Saja para fansnya
melihatnya pasti mereka akan pingsan melihat Sasuke yang tidak bisa dibilang
keren ini.
“Dasar bodoh…” Bisik Ino, dirinya sedikitnya paham sebenarnya mengapa
Sakura memilih diam mengenai kehamilannya.
“Ooh…… APAA? Sakura hamiil?!” Naruto terdiam sesaat bingung akan info yang
baru saja ia dapatkan.. “Sakura tidak berkencan dengan siapapun… siapa ayahnya?
Siapa?” Naruto selalu menjadi teman curhat Sakura dan dirinya yakin bahwa
Sakura sedang tidak berkencan dengan siapapun.
“Naruto-kun.. Sasuke-san duduklah dulu akan kami jelaskan setahu kami..”
Ujar hinata dengan suaranya yang lembut, keduanya pun duduk di depan mereka dan
Hinata mulai menjelaskannya.
“Sebenarnya kamu juga tidak tahu siapa ayah bayi yang dikandung Sakura…
Sakura sendiri belum bilang bahwa dia hamil itu hanya…” Hinata terdiam dan
memikirkan mengapa mereka mengetahui kondisi Sakura, hal itu sebenarnya..
“Intuisi Wanita mungkin? Kami diam saja dan menunggu Sakura bilang sendiri pada
kami… mungkin sebelum Sakura berangkat ke Amerika dua hari lagi Sakura akan
mengatakannya pada kami?”
“Tapi entah mengapa aku merasa Sakura tidak akan mengatakannya…”
Sasuke segera berdiri dan membuka handphone miliknya, berusaha menghubungi
Sakura sayangnya gagal. Tanpa pikir panjang Sasuke berlari ke stasiun terdekat
dan membeli tiket ke stasiun dekat apartemennya.
‘v’
Sepulang dari café itu Sakura tidak segera pulang ke apartemennya, Sakura
tidak akan lagi kembali ke apartemennya.
Sakura membuka loker sewaan yang ada di stasiun, mengambil tas jinjing
besar miliknya yang berisi pakaian dan segera mencari taksi yang akan
membawanya ke bandara. Sakura segera menuju ke Bandara karena sebentar lagi jam
keberangkatannya, dan semuanya akan berakhir.
Sakura menyandarkan bahunya di kursi penumpang, menghela nafas panjang
berkali-kali. Memainkan ponsel miliknya, melihat-lihat foto kenangannya dengan
Sasuke dan Naruto dan juga kawan-kawannya yang lain. Ini memang bukan
perpisahan… hanya saja Sakura tidak yakin kapan dirinya bisa menemui mereka
lagi karena keadaannya akan menyulitkannya. Sakura belum berani mengungkapkan
fakta dirinya hamil, meski sebenarnya bukan kehamilannya yang ia takutkan untuk
diberitakan. Hanya saja pertanyaan ‘siapa Ayahnya?’-lah yang Sakura takut untuk
beritahukan pada mereka. Sakura takut ayah bayinya menyuruhnya menggugurkannya
atau malah menikahinya hanya karena merasa bertanggung jawab. Sakura tidak bisa
tersiksa karena pernikahan yang didasarkan dengan keterpaksaan, Sakura lebih
memilih menjadi single parent dibandingkan harus menikah karena terpaksa.
Lagipula kehamilannya ini bisa dibilang tindakan curang Sakura yang merasa…
putus asa.
“Nona kita sudah sampai”
Sakura mengeluarkan beberapa lembar yen dan menyerahkannya pada pemngemudi
taksi itu, “Simpan saja kembaliannya, terimakasih…”
Dirinya keluar dari taksi dan berjalan dengan mantap kedaerah
keberangkatan. Sakura mematikan ponselnya dan mulai berjalan pergi kearah
pesawatnya yang beberapa menit lagi akan berangkat. Dirinya akan memulai hidup
baru di sana, di Amerika dan akan berada disana untuk waktu yang lama.
“Semuanya akan berakhir… selamat tinggal…”
Dan Sakura tidak akan pernah menyesali keputusannya, keputusannya
meninggalkan ayah bayinya, naruto, hinata dan kawan-kawannya yang lain. Kejam
memang, tapi itulah yang Sakura pilih untuk masa depannya. Masa depan bersama
bayinya, bayi perempuan—menurut firasat Sakura—nya yang pastinya akan secantik
Sakura.
End.
Menggantung? Yah memang…
Ingin dilanjut? Kalau ada yang mau silahkan
coment dan akan di pertimbangkan olehku waahahahahaha
udah di publish ke fanfic lum
BalasHapusBelum hahahaha
HapusLupa akun ples password
Lanjutannya ya...
*ubek2 archive*
Sabar ya nanti di post waktunya sih...
nantikan saja *kabur sebelum dikeroyok massa*
ttd, fire-fly
lanjutin donk
BalasHapus