aku
menginginkan hatimu..
hanya hatimu..
untuk kumiliki selamanya....
______________________________________
" seperti biasa komandan, tidak ada jejak maupun petunjuk yg ditinggalkan pelaku, keadaan korban pun sama, sebuah tusukan pada daerah vital serta bagian hati yang hilang" petugas tersebut memberikan secarik kertas berupa catatan identifikasi korban kepada kepala komandannya.
ini adalah korban pembunuhan ke 10 dalam 3 bulan terakhir, semua kondisi korban relatif sama, adanya bekas tusukan pada bagian yang fatal dan luka menganga pada bagian dada serta hati yang hilang diambil.
"lagi lagi, tidak ada keterkaitan sama sekali antara seluruh korban, baik hubungan kerabat, latar belakang maupun hal lainnya, namun si pembunuh memiliki motif yang sama, yaitu sasarannya perempuan kemudian mengambil hatinya, sepertinya dia memilih korban secara acak" sang komandan mengerutkan dahinya sambil mengambil kesimpulan. kasus pembunuhan ini benar benar membuat polisi kewalahan.
beberapa hari sebelumnya. seorang perempuan tengah membilas rambutnya di bawah guyuran shower, tanpa ia sadari sesosok bayangan perlahan mendekat dari belakang dan..
brak..
" hei servi... kau mengejutkanku..." perempuan tersebut mengambil kembali botol shampo yg ia jatuhkan karena kaget ketika lelaki yg dipanggil servi tersebut tiba tiba memeluknya dari belakang.
" maafkan aku, aku hanya tidak sabar dan tidak tahan melihat keindahan tubuhmu mei..." serviana terus mendekap tubuh polos perempuan bernama mei tersebut sambil membisikan kata kata dengan lembut pada daun telinganya dari belakang, tangannya terus menyusuri tiap inchi tubuh mei, menjelajahi dan mencumbu tiap tiap bagian tubuhnya yg sensitif, mulai dari payudara, punggung, pinggang dan tak ketinggalan lehernya tidak lepas dari belaian serta cumbuan dari lelaki berparas tampan tersebut, tanpa sadar mei pun mendesah karena nafsunya naik, di lepaskannya pelukan servi sebelum ia mengeringkan tubuhnya dengan handuk, perlahan dia menggandeng serviana ke kamarnya, mei memang tinggal sendiri di rumahnya, kedua orang tuanya tinggal jauh di desa, dan ia sendiri bekerja di kota.
"aku menginginkan hatimu.... " serviana berbisik lembut pada mei.
"apapun yg kau minta, akan kuberikan, aku milikmu seutuhnya sayang" mei tersenyum menggoda sembari melepas handuk yang dikenakannya.
"kakau begitu bisakah kau menutup matamu sebentar? ini akan sedikit menyakitkan" mata serviana menatap dengan teduh kearah mei.
"kau punya fantasi liar ya? lakukanlah.. aku milikmu " mei menutup matanya, sekian detik berikutnya dia bisa nerasakan serviana mencium bibirnya, namun ada rasa sakit pada dadanya, rasa sakit terkoyak ketika sebuah pisau dengan cepat menancap dan menusuk bagian jantungnya tepat ke atrium bagian kanan, yang membuat aliran darah yg masuk ke jantung berhenti dan mengalir deras melalui celah yang di buat pisau tersebut.
mei hanya bisa terkejut dan berteriak tertahan sebelum pandangannya mengabur, sementara serviana mengambil pisau bedah dan mulai membuat goresan di bagian dada perempuan yg kehilangan nyawa di tangannya itu.
servi tersenyum senang karena telah mendapat apa yang dia inginkan, hati gadis itu. dia mengecup kembali bibir mei yang telah terkujur kaku. dengan penuh kehati-hatian, ia pun meninggalkan rumah itu sebelum polisi menemukan mayat mei 2 hari berikutnya.
hari pun berganti, serviana, seorang dengan iq diatas rata rata memang sangat terkenal di kampusnya, selain karena penampilannya yang menarik, dia pandai berbicara dan bergaul dengan siapa saja tanpa memandang latar belakang, hal itulah yg membuatnya banyak disenangi orang lain, berbanding terbalik dengan hal tersebut. kiara seorang mahasiswi yang satu jurusan dengan serviana sangat anti-sosial, wajahnya memang cantik, namun karena sifatnya itulah dia tidak terlalu mempunyai banyak teman, terkadang ia terlihat bermain dengan sebuah boneka kain tanpa tangan kanan di sudut ruangan, banyak laki laki yang tertarik pada kecantikannya, namun semua selalu berakhir di caci maki, bukan.. bukan karena dia tidak menyukai laki laki, hanya saja dia mempunyai seorang yang dia suka..
" ahh... menjadikannya milikku mungkin hanya dalam mimpi saja " kiara mengugam perlahan sebelum mengeluarkan sebuah silet dari dalam boneka kain miliknya dan mulai menggores kembali lengan yang selalu tertutup oleh baju bertangan panjangnya. dihisapnya darah yang menetes dari goresan tangannya tersebut, ada kesenangan tersendiri baginya ketika dia meminum darahnya sendiri yang berasal dari goresan yg membentuk nama serviana tersebut.
___________________________________________________________
"jadi bisakah kita bertemu lagi hari minggu nanti?" seorang perempuan bertubuh mungil dengan rambut terurai panjang menatap mata servi penuh harap.
"tentu saja, siapa yang bisa menolak ajakan dari seorang gadis manis sepertimu" servi tersenyum sambil mengelus rambut rin, gadis yang baru beberapa hari ini di kenalnya lewat game, mereka berjanji akan bertemu hari ini, dan siapa sangka rin malah semakin terpesona di buatnya.
hanya butuh beberapa jam saja untuk servi agar bisa akrab dengan gadis yang baru pertama kali ditemuinya itu. tanpa disadari, sepasang mata melihat kejadian itu dan mulai geram, di tinjunya tembok yang berada di sampingnya sekuat tenaga sambil menatap gadis bernama rin itu penuh dengan kebencian.
tangan yg terluka dan sedikit berdarah tersebut di biarkannya, sambil berjalan perlahan dia meninggalkan tempat itu dengan ceceran darah yang menetes dari luka di tangannya.
hari hari pun berlalu dengan lambat, di sebuah rumah di sudut kota, tepatnya dalam sebuah kamar terdengar erangan yg tertahan yang menggema dalam keheningan tempat itu.
"ahhh.. servi... lakukan terus sayang.. hisap yg kuat..."
sesosok tubuh perempuan tengah berteriak tertahan diatas kasurnya, tubuhnya yg penuh keringat serta darah yg menetes dimana mana akibat goresan pada tubuhnya sendiri membuat dirinya sendiri makin bergairah.
di hisapnya darah yg keluar dari tangannya sendiri sembari membayangkan kalau yg melakukannya adalah servi, laki laki yang selalu ada dalam bayangnya tersebut. namun sedetik kemudian dia berhenti dan teringat kejadian beberapa hari sebelumnya dimana ia melihat serviana tengah mengelus rambut perempuan yg tak pernah di lihatnya tersebut.
"wanita sialan
kiara kembali menggoreskan silet tersebut ke tangannya, dengan penuh kebencian dia menghisap sendiri darah yg mulai mengalir ditangannya tersebut.
"aku akan mendapatkanmu, bagaimanapun caranya" sebuah seringai terukir di bibirnya yang penuh darah sebelum dia kembali melanjutkan fantasinya tersebut.
sementara itu di sebuah sudut taman, servi sedang mengobrol dengan rin, mulai dari topik game sampai ke masalah pribadi, keduanya terlihat sangat akrab sampai ketika mereka saling menatap dalam keheningan.
"jadi...aku boleh meminta sesuatu darimu?" serviana menatap dalam dalam mata rin, dibelainya rambut gadis yang berada didepannya tersebut secara perlahan.
dengan malu rin mengangguk sambil menundukan kepalanya.
"kau cantik rin, kau begitu baik, kau sempurna, jangan alihkan pandanganmu, biarkan aku menatap matamu yg selalu menenangkan pikiranku, lihatlah keseriusan yang ada pada mataku" servi berbisik perlahan sembari mengangkat lembut dagu gadis yang kini merona akibat ucapannya barusan dengan jarinya.
"bolehkah aku memiliki hatimu?" servi mendekatkan wajahnya secara perlahan sembari menutup matanya. rin yang menyadari apa yang mungkin diinginkan servi ikut memejamkan matanya.
namun itu adalah kesalahan yang fatal. tanpa diketahui rin, dia mengambil 2 buah pisau yang disembunyikan dalam tas nya, sembari berpagutan servi menarik tubuh rin agar bisa ia dekap lebih erat. dan blas...
kedua pisau itu menusuk tepat di punggung rin yang tengah ia dekap.
rin yang hendak berteriak kesakitan terus di pagut bibirnya oleh servi, di tekan terus kedua pisau tersebut hingga darah mulai membasahi punggung dan kedua tangan servi sampai akhirnya gadis mungil tersebut meregang nyawa dalam pelukannya.
setelah memastikan bahwa gadis tersebut tak bernyawa lagi, dilepaskannya pagutan pada bibirnya rin, benang saliva yang panjang terbentuk ketika bibir mereka saling terlepas.
"kini aku bisa memiliki hatimu, terima kasih kau sudah datang kedalam kehidupanku rin" serviana melepas dekapannya dan mulai mengambil peralatan bedah dalam tas nya.
dia mempelajari teknik teknik bedah termasuk titik titik fatal pada manusia, itulah sebabnya dia selalu bisa mengakhiri nyawa seseorang hanya dengan satu serangan.
dan sekali lagi, kota ini pun heboh dengan ditemukannya sesosok mayat tanpa hati yang tergeletak begitu saja tanpa ada petunjuk apapun.
hanya hatimu..
untuk kumiliki selamanya....
______________________________________
" seperti biasa komandan, tidak ada jejak maupun petunjuk yg ditinggalkan pelaku, keadaan korban pun sama, sebuah tusukan pada daerah vital serta bagian hati yang hilang" petugas tersebut memberikan secarik kertas berupa catatan identifikasi korban kepada kepala komandannya.
ini adalah korban pembunuhan ke 10 dalam 3 bulan terakhir, semua kondisi korban relatif sama, adanya bekas tusukan pada bagian yang fatal dan luka menganga pada bagian dada serta hati yang hilang diambil.
"lagi lagi, tidak ada keterkaitan sama sekali antara seluruh korban, baik hubungan kerabat, latar belakang maupun hal lainnya, namun si pembunuh memiliki motif yang sama, yaitu sasarannya perempuan kemudian mengambil hatinya, sepertinya dia memilih korban secara acak" sang komandan mengerutkan dahinya sambil mengambil kesimpulan. kasus pembunuhan ini benar benar membuat polisi kewalahan.
beberapa hari sebelumnya. seorang perempuan tengah membilas rambutnya di bawah guyuran shower, tanpa ia sadari sesosok bayangan perlahan mendekat dari belakang dan..
brak..
" hei servi... kau mengejutkanku..." perempuan tersebut mengambil kembali botol shampo yg ia jatuhkan karena kaget ketika lelaki yg dipanggil servi tersebut tiba tiba memeluknya dari belakang.
" maafkan aku, aku hanya tidak sabar dan tidak tahan melihat keindahan tubuhmu mei..." serviana terus mendekap tubuh polos perempuan bernama mei tersebut sambil membisikan kata kata dengan lembut pada daun telinganya dari belakang, tangannya terus menyusuri tiap inchi tubuh mei, menjelajahi dan mencumbu tiap tiap bagian tubuhnya yg sensitif, mulai dari payudara, punggung, pinggang dan tak ketinggalan lehernya tidak lepas dari belaian serta cumbuan dari lelaki berparas tampan tersebut, tanpa sadar mei pun mendesah karena nafsunya naik, di lepaskannya pelukan servi sebelum ia mengeringkan tubuhnya dengan handuk, perlahan dia menggandeng serviana ke kamarnya, mei memang tinggal sendiri di rumahnya, kedua orang tuanya tinggal jauh di desa, dan ia sendiri bekerja di kota.
"aku menginginkan hatimu.... " serviana berbisik lembut pada mei.
"apapun yg kau minta, akan kuberikan, aku milikmu seutuhnya sayang" mei tersenyum menggoda sembari melepas handuk yang dikenakannya.
"kakau begitu bisakah kau menutup matamu sebentar? ini akan sedikit menyakitkan" mata serviana menatap dengan teduh kearah mei.
"kau punya fantasi liar ya? lakukanlah.. aku milikmu " mei menutup matanya, sekian detik berikutnya dia bisa nerasakan serviana mencium bibirnya, namun ada rasa sakit pada dadanya, rasa sakit terkoyak ketika sebuah pisau dengan cepat menancap dan menusuk bagian jantungnya tepat ke atrium bagian kanan, yang membuat aliran darah yg masuk ke jantung berhenti dan mengalir deras melalui celah yang di buat pisau tersebut.
mei hanya bisa terkejut dan berteriak tertahan sebelum pandangannya mengabur, sementara serviana mengambil pisau bedah dan mulai membuat goresan di bagian dada perempuan yg kehilangan nyawa di tangannya itu.
servi tersenyum senang karena telah mendapat apa yang dia inginkan, hati gadis itu. dia mengecup kembali bibir mei yang telah terkujur kaku. dengan penuh kehati-hatian, ia pun meninggalkan rumah itu sebelum polisi menemukan mayat mei 2 hari berikutnya.
hari pun berganti, serviana, seorang dengan iq diatas rata rata memang sangat terkenal di kampusnya, selain karena penampilannya yang menarik, dia pandai berbicara dan bergaul dengan siapa saja tanpa memandang latar belakang, hal itulah yg membuatnya banyak disenangi orang lain, berbanding terbalik dengan hal tersebut. kiara seorang mahasiswi yang satu jurusan dengan serviana sangat anti-sosial, wajahnya memang cantik, namun karena sifatnya itulah dia tidak terlalu mempunyai banyak teman, terkadang ia terlihat bermain dengan sebuah boneka kain tanpa tangan kanan di sudut ruangan, banyak laki laki yang tertarik pada kecantikannya, namun semua selalu berakhir di caci maki, bukan.. bukan karena dia tidak menyukai laki laki, hanya saja dia mempunyai seorang yang dia suka..
" ahh... menjadikannya milikku mungkin hanya dalam mimpi saja " kiara mengugam perlahan sebelum mengeluarkan sebuah silet dari dalam boneka kain miliknya dan mulai menggores kembali lengan yang selalu tertutup oleh baju bertangan panjangnya. dihisapnya darah yang menetes dari goresan tangannya tersebut, ada kesenangan tersendiri baginya ketika dia meminum darahnya sendiri yang berasal dari goresan yg membentuk nama serviana tersebut.
___________________________________________________________
"jadi bisakah kita bertemu lagi hari minggu nanti?" seorang perempuan bertubuh mungil dengan rambut terurai panjang menatap mata servi penuh harap.
"tentu saja, siapa yang bisa menolak ajakan dari seorang gadis manis sepertimu" servi tersenyum sambil mengelus rambut rin, gadis yang baru beberapa hari ini di kenalnya lewat game, mereka berjanji akan bertemu hari ini, dan siapa sangka rin malah semakin terpesona di buatnya.
hanya butuh beberapa jam saja untuk servi agar bisa akrab dengan gadis yang baru pertama kali ditemuinya itu. tanpa disadari, sepasang mata melihat kejadian itu dan mulai geram, di tinjunya tembok yang berada di sampingnya sekuat tenaga sambil menatap gadis bernama rin itu penuh dengan kebencian.
tangan yg terluka dan sedikit berdarah tersebut di biarkannya, sambil berjalan perlahan dia meninggalkan tempat itu dengan ceceran darah yang menetes dari luka di tangannya.
hari hari pun berlalu dengan lambat, di sebuah rumah di sudut kota, tepatnya dalam sebuah kamar terdengar erangan yg tertahan yang menggema dalam keheningan tempat itu.
"ahhh.. servi... lakukan terus sayang.. hisap yg kuat..."
sesosok tubuh perempuan tengah berteriak tertahan diatas kasurnya, tubuhnya yg penuh keringat serta darah yg menetes dimana mana akibat goresan pada tubuhnya sendiri membuat dirinya sendiri makin bergairah.
di hisapnya darah yg keluar dari tangannya sendiri sembari membayangkan kalau yg melakukannya adalah servi, laki laki yang selalu ada dalam bayangnya tersebut. namun sedetik kemudian dia berhenti dan teringat kejadian beberapa hari sebelumnya dimana ia melihat serviana tengah mengelus rambut perempuan yg tak pernah di lihatnya tersebut.
"wanita sialan
kiara kembali menggoreskan silet tersebut ke tangannya, dengan penuh kebencian dia menghisap sendiri darah yg mulai mengalir ditangannya tersebut.
"aku akan mendapatkanmu, bagaimanapun caranya" sebuah seringai terukir di bibirnya yang penuh darah sebelum dia kembali melanjutkan fantasinya tersebut.
sementara itu di sebuah sudut taman, servi sedang mengobrol dengan rin, mulai dari topik game sampai ke masalah pribadi, keduanya terlihat sangat akrab sampai ketika mereka saling menatap dalam keheningan.
"jadi...aku boleh meminta sesuatu darimu?" serviana menatap dalam dalam mata rin, dibelainya rambut gadis yang berada didepannya tersebut secara perlahan.
dengan malu rin mengangguk sambil menundukan kepalanya.
"kau cantik rin, kau begitu baik, kau sempurna, jangan alihkan pandanganmu, biarkan aku menatap matamu yg selalu menenangkan pikiranku, lihatlah keseriusan yang ada pada mataku" servi berbisik perlahan sembari mengangkat lembut dagu gadis yang kini merona akibat ucapannya barusan dengan jarinya.
"bolehkah aku memiliki hatimu?" servi mendekatkan wajahnya secara perlahan sembari menutup matanya. rin yang menyadari apa yang mungkin diinginkan servi ikut memejamkan matanya.
namun itu adalah kesalahan yang fatal. tanpa diketahui rin, dia mengambil 2 buah pisau yang disembunyikan dalam tas nya, sembari berpagutan servi menarik tubuh rin agar bisa ia dekap lebih erat. dan blas...
kedua pisau itu menusuk tepat di punggung rin yang tengah ia dekap.
rin yang hendak berteriak kesakitan terus di pagut bibirnya oleh servi, di tekan terus kedua pisau tersebut hingga darah mulai membasahi punggung dan kedua tangan servi sampai akhirnya gadis mungil tersebut meregang nyawa dalam pelukannya.
setelah memastikan bahwa gadis tersebut tak bernyawa lagi, dilepaskannya pagutan pada bibirnya rin, benang saliva yang panjang terbentuk ketika bibir mereka saling terlepas.
"kini aku bisa memiliki hatimu, terima kasih kau sudah datang kedalam kehidupanku rin" serviana melepas dekapannya dan mulai mengambil peralatan bedah dalam tas nya.
dia mempelajari teknik teknik bedah termasuk titik titik fatal pada manusia, itulah sebabnya dia selalu bisa mengakhiri nyawa seseorang hanya dengan satu serangan.
dan sekali lagi, kota ini pun heboh dengan ditemukannya sesosok mayat tanpa hati yang tergeletak begitu saja tanpa ada petunjuk apapun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar