Jumat, 10 Juli 2015

Last Hug

Kelopak bunga sakura yang berjatuhan mewarnai tanah dengan warna pink pucat.
langit di atas kami tampak biru dengan sedikit awan yang terarak.
Suara yang menemani kami hanyalah suara langkah kaki kami dan juga angin semilir yang membawa wangi dari musim semi yang akan segera berakhir.


Aku hanya diam saja tidak mengatakan apapun, tidak sanggup mengatakan apapun, tidak tahu apa yang harus kukatakan.
ketika kami sampai dekat sebuah danau kecil yang memancarkan refleksi dari kami berdua, dia menghentikan langkahnya.
aku berbalik untuk melihatnya, seakan ingin bertanya kenapa dia berhenti, meski sebenarnya aku tahu kenapa dia menghentikan langkahnya.
wajahnya tertunduk seakan hendak melakukan pengakuan dosa sementara aku hanya berusaha untuk tetap diam.
aku takut jika aku bergerak mendekat, semuanya akan hancur berantakan.
"Aku yakin… kau sudah mengetahuinya," ujarnya dengan suara pelan, berbisik, mungkin sebenarnya tidak ingin aku mendengarnya.

"aku tahu…"

Tanpa kau perlu mengatakannya seperti ini aku sudah tahu…
aku menutup mataku dan ketika aku membukanya, aku hanya memperhatikan pantulan bayangan kami pada air danau.
dengan menyimpan rapat-rapat apa yang sebenarnya kupikirkan, aku mengatakan,
"Ya… selamat atas akan dilangsungkannya pernikahanmu, Rin . Dia pasti akan membuatmu bahagia."
rin hanya terdiam mendengar apa yang kukatakan yang setengahnya juga kukatakan pada diriku sendiri.
Aku bisa mendengarnya tampak hendak mengatakan sesuatu tapi ragu-ragu dan menutup mulutnya lagi.
mungkin dia mengerti apa yang ingin kukatakan dengan mengatakan semua itu.
aku mendengar suaranya berjalan kearahku dan melihat ke samping.
dia menundukkan kepala dan aku bisa melihat tubuhnya bergetar, sepertinya berusaha untuk tetap tegar.
Dia pasti lebih tahu dibandingkan diriku betapa pentingnya pernikahan ini baginya dan bagi keluarganya.
"Aku mengerti… ini adalah yang terbaik… demi semuanya," ujarnya dengan perlahan sebelum mundur selangkah demi selangkah dariku.

"Ya…" ungkapku lirih

"Jadi begitu…" ujarnya perlahan dengan menjaga jarak antara kami.
tak ada yang bersuara lagi setelah itu dan aku tidak tahu apakah itu hal yang baik.
Aku tahu percuma saja aku mengatakan ini tapi tetap saja aku bertanya,
"Kapan pernikahannya akan digelar Rin?"
dia tampak terkejut, entah karena alasan apa. Mungkin karena aku bertanya padanya atau mungkin kenapa aku bahkan peduli akan hal seperti itu.
Rambutnya bergerak sesuai dengan gerakan angin dan itu membuatnya sangat…

cantik.....

Tapi, pikiran tersebut segera kusingkirkan dari dalam benakku sebelum menyebar terlalu jauh.
"Pertengahan bulan keenam," dia berkata dengan suara lirih, seakan tidak tahu apakah dia harus senang dengan hal itu atau tidak.
Aku hanya bisa terdiam mendengarnya karena tak tahu apa lagi yang harus kukatakan.
"Apakah aku akan baik-baik saja?" ujarnya dengan suara lirih dan nyaris terdengar ketakutan.
"Rin akan baik-baik saja," jawabku singkat, aku bisa melihat dengan jelas dia ketakutan.Aku tahu aku akan menyesali ini…Tapi, melihatnya yang tampak pucat membuatku tak bisa menghentikan diriku sendiri.
aku mengambil beberapa langkah untuk mendekat dan mendekapnya.
Aku bisa merasakan dia terkejut karena aku tiba-tiba memeluknya.
tapi, aku hanya mengelus kepalanya dengan perlahan sambil mengatakan, "Semuanya akan baik-baik saja.."
aku bisa mendengarnya terisak dan membuat dadaku terasa sesak tapi aku sudah paham benar dengan peranku di tempat ini.
Aku terdiam saja mendengar perkataanku yang aku sendiri tidak tahu kenapa kukatakan.
Tapi, demi kebaikannya aku harus melepaskannya.
meskipun sebenarnya, jika memang dibutuhkan aku bersedia membunuh semua orang yang menghalangi…kami, aku yakin ia pasti akan menangis.
karena itulah, dia tak pantas dengan orang sepertiku.
Karena itulah, aku sudah puas hanya dengan mendekapnya seperti ini.
Tapi, setelah ini aku bahkan tidak akan memaafkan diriku sendiri.
meskipun aku selalu berkata aku bahagia dengan caraku sendiri

Wolfie 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar