MR . STALKER
Kulangkahan
kakiku senormal mungkin sembari terus berpura pura acuh dengan keadaan di stasiun
ini, dengan earphone yang menyumbat
kedua telingaku. Pikiranku hanya terfokus kepada gadis yang berjalan beberapa
meter di depanku. Tentu saja dengan banyaknya orang disini dia tidak akan
menyadari kalau aku sedang mengikutinya, setidaknya itulah yang kuharapkan.
Ah, aku lupa
memperkenalkan diri. Namaku serviana, aku kuliah jurusan psikologi di salah
satu universitas swasta di kota ini, sedangkan gadis yang sedang kuikuti
bernama rin, dia bersekolah di sekolah
menengah atas unggulan di kota sebelah dan mengambil jurusan bahasa. Sehingga
menggunakan kereta adalah rutinitas sehari harinya. Menurutku dia cocok
mengambil jurusan itu karena dia menyukai sastra, terutama novel-novel
terjemahan. Biasanya dia membaca novelnya sembari meminum sercangkir teh hangat
dan ditemani biscuit coklat favoritnya. Rambutnya yang hitam tergerai panjang
sangat kontras dengan kulit putihnya
yang selalu menggunakan lulur dan shampo beraroma mint. Kau pasti bertanya
mengapa aku bisa mengetahui hal detail seperti itu? Mungkin bagi kalian aku dianggap
sebagai seorang stalker, tapi hei! jangan cap kata itu pada diriku, aku hanya
mencari tahu soal gadis yang kukagumi saja, bukankah wajar kita mencari tahu
sesuatu tentang orang yang kita sukai?
Kupercepat
langkahku saat Rin—Gadis yang kukagumi--memasuki sebuah angkutan umum, akupun
memasuki angkutan umum yang sama dengannnya. Aku memilih duduk dekat dengan
pintu sehingga bisa mengawasi siapapun dari sini, karena ini adalah pertama
kali aku mengikutinya untuk mencari tahu dimana dia tinggal. Kuperhatikan terus
dirinya dari sudut mataku, termasuk perubahan ekspresi wajahnya apabila dia
melihat sesuatu di jalan yang menunjukan dia tertarik kepada hal tersebut. Dan
tentu saja hal tersebut kucatat ke sebuah buku catatan kecil yang selalu kubawa
kemanapun.
20 menit
berlalu, angkutan umum yang kunaiki berhenti tepat di depan sebuah rumah yang
cukup luas, kulihat dia menyodorkan beberapa lembar uang ke sopir angkot
tersebut. Sedangkan aku ? Tentu saja aku tidak ikut turun. Akan sangat
mencurigakan jika aku ikut turun bersamanya, jadi kuputuskan untuk turun di
gang dekat rumahnya. Setelah kupastikan itu benar – benar rumahnya, aku
bergegas pulang ke rumahku untuk melakukan kegiatan rutin, memperhatikan akun
media social Rin. Mengagumi foto-fotonya, ikut senang ketika dia megupdate
status tentang hal yang terjadi padanya hari itu dan juga merasa tidak berguna
saat dia sedih. Aku terlalu takut untuk memulai percakapan dengannya, jadi aku
hanya bisa menekan tombol like sebagai ungkapan bahagia maupun turut bersedih.
Hari-hari pun
berlalu, hari ini adalah hari istimewa baginya. Dia baru saja memenangkan lomba
karya tulis antar sekolah dan mendapat sebuah kado berisi ucapan selamat dan
boneka Siberian husky. Aku tersenyum dan mengelike statusnya, aku bahagia
karena dia senang hadiah pemberian dariku sekaligus sedikit kecewa karena ia
menyangka kalau boneka itu pemberian orangtuanya. Mungkin ia merasa kalau yang
mengetahui ia suka husky hanya keluarganya saja.
Jadi darimana
aku tahu hal itu ? Mudah saja, Rin memakai tas punggung dengan gantungan kecil
berbentuk husky, begitupun pada foto-foto selfie dia di kamarnya, sering
kulihat di meja belajar dia terdapat sebuah figure kecil berbentuk husky, dan
lagi beberapa foto menunjukan dia tegah memakai kaos dengan gambar husky di
depannya. Jadi kusimpulkan dia menyukainya. Ingin rasanya aku berkata padanya
“Hei, kau suka dengan hadiah pemberian dariku? “ Namun aku sadar, aku ini
siapa? Aku bahkan ragu kalau dia mengenalku hahaha.
Dia mempunyai
banyak teman. Haha tentu saja. Gadis manis, baik hati dan menarik sepertinya
pasti mempunyai banyak teman dan gampang disukai. Berbeda denganku yang agak
kurang beruntung dalam hal bersosialisasi. Kebanyakan temanku hanya dari forum maupun game online
yang kumainkan.
Dari sekian
banyak teman yang dia punya, dia punya 2
orang sahabat yang dekat dengannya, seorang anak laki laki bernama Dion dan
perempuan bernama Vita. Jujur aku tidak suka dia mempunyai teman dekat laki
laki, tapi dia butuh sahabat yang bisa melindunginya. Meski kesal, apa yang bisa
kulakukan? aku bukanlah siapa siapa, bukan pacar pun bukan teman, yang bisa
kulakukan hanya merelakannya saja.
Hari demi hari
berlalu, setiap momen dan ada kesempatan, aku selalu megiriminya hadiah--dengan
anonim dan hanya membubuhkan gambar 3 helai bunga sakura--hadiah yang berisi
hal-hal yang disukai maupun diingikannya. Dan setiap kali itu pula dia selalu
mengupdate statusnya. Aku ikut bahagia dan seperti biasa aku like statusnya.
Ada perasaan yang tumbuh kurasakan dalam hatiku. Bermula dari sebuah rasa kagum
kini aku merasa aku ingin selalu melihatnya bahagia dan menjaga senyumnya yang
manis itu sampai suatu ketika…
RIN BERPACARAN DENGAN DION
Pupil mataku
membesar ketika kulihat tulisan tersebut diberandaku. Nafasku terasa sesak,
telapak tanganku terasa ingin dan ada suatu perasaan yang menghimpit dadaku
sehingga perlahan hatiku seakan retak.
Apa ini ? ada
apa ini ? apa yang sebenarnya terjadi ?
Pertanyaan demi
pertanyaan terus muncul dalam pikiranku. Kucoba tenang dan bergegas mengambil
jaketku untuk pergi ke sebuah fast food di mall karena aku melihat Vita
mengajak Rin dan Dion ke sana sekarang dikolom komentar. Selama perjalanan
pikiranku terus berkecamuk dan tidak tenang, pening serta terasa dingin dan
dadaku serasa sesak. Memasuki tempat tersebut aku mengambil tempat di pojok
ruangan agar bisa mengamati siapa saja yang datang. Tak berapa lama kulihat
mereka datang dan mengambil tempat beberapa meja dekat tempatku berada. Meski
samar aku bisa mendengar percakapan mereka.
Vita mengucapkan selamat pada Rin atas
hubungan yang baru saja terjalin. Dan yang lebih mengagetkan. Dion mengaku kalau
semua hadiah yang aku kirim sebenarnya adalah pemberian dirinya. Ingin rasanya
aku mendekat, membalikan meja itu, meraih kerah bajunya dan memukuli bocah
kurang ajar tersebut, kemudian menuangkan kopi panas, menarik telinganya dan
berteriak bahwa itu adalah hadiah dariku. Tapi…
Rin saat itu
tertawa dan terlihat sangat bahagia, akupun teringat sesuatu. Bukankah aku
ingin melihat dia bahagia? Bukankah aku ingin menjaga senyumnya? Jika hal itu
kulakukan aku hanya akan membuatnya sedih. Lagipula aku ini siapa? Aku bahkan
ragu kalau Rin tahu kami pernah bertemu.
Aku tersenyum
simpul, air mataku menetes membasahi pipiku. Kupakai hoodie untuk menutupi
kepalaku, saat aku melewati mejanya, tak sengaja aku dan rin melakukan kontak
mata. Walau hanya sepersekian detik tapi aku yakin Rin bisa melihatku menangis.
Aku harus segera pergi dari sini.
Hari berikutnya
terasa muram bagiku,seperti tidak ada semangat dalam diriku. Aku mulai menjauhi
teman-temanku, dan aku bahkan tidak
membuka akun media sosialku. Aku harus mengakhiri semua ini. Bukankah aku ingin
melihatnya bahagia? Dan sekarang dia tengah bahagia, harusnya aku ikut bahagia
juga. Aku tidak ingin dia tahu kalau hatiku hancur karenanya. Dengan berat hati
aku mengarahkan pointerku ke profil Rin dan mengeklik tombol batalkan
pertemanan.
Ya.. selesai
sudah. Mungkin inilah akhirnya, ini lebih baik, semoga kau bahagia selalu Rin.
Aku tahu akan menyesali ini dan mulai dari sekarang,aku tidak akan bisa
mengagumi dirimu lagi.
Hari dan minggu
pun berlalu, semua kujalani dengan senyuman palsuku. Aku menghabiskan waktu
dengan kuliah dan bekerja paruh waktu. Agar aku bisa lari dari kenyataan ini
dan sejenak bisa melupakan rin. Hingga suatu malam ku putuskan membuka akun
social mediaku.
RIN INGIN MENJADI TEMAN ANDA
Hei.. apakah ini
mimpi? Dia mengirimiku permintaan pertemanan? Bukankah dia tidak sadar akan
keberadaanku?
Ku konfirmasi
dan kebetulan saat itu rin sedang online
Kuberanikan diri
untuk mengiriminya pesan, ya.. pesan pertamaku setelah sekian lama aku
mengaguminya.
“ hei terima kasih sudah add ‘’
“ iya sama – sama “
“ ^^ “
“ kamu remove aku ? “
“ah enggak kok “
“ ya aku merasa sudah lama tidak melihatmu me-like statusku, jadi aku cek
profilmu dan ternyata kita sudah tidak berteman”
glek..hei rin menyadari keberadaanku
“eh aku off duluan ya, mau istirahat”
sambungnya
“ok”
aku klik
profilnya, apakah rin sakit? Tidak biasanya dia beristirahat jam segini. Yang
kulihat hanyalah beberapa share gambar dan status yang menunjukan dia merasa kehilangan dan
merindukan seseorang. Kusimpulkan dia sedang patah hati. Aku ingat besok adalah
hari minggu dan seperti biasa seharusnya dia akan ke taman untuk berjalan-jalan.
Jadi aku putuskan untuk beristirhat juga dan berencana menemuinya.
Esok paginya aku
berangkat ke taman dan seperti yang sudah kuduga, banyak orang – orang yang
berekreasi bersama keluarganya. Aku mencari cari Rin dan menemukannya tengah
duduk di rerumputan dengan pandangan mata yang kosong. Aku mendekat dan duduk
membelakangi punggungnya, namun sepertinya dia tidak menyadarinya.
“ Hei, kau tahu? Kehilangan memang menyedihkan, apalagi di tinggalkan
orang yang kita sayangi. Namun daripada terpaku menunggu yang tak pasti, kenapa
tidak mencoba melihat sekelilingmu? Banyak yang peduli kepadamu. Kau tidak
sendiri “
aku perlahan berdiri dan sepertinya dia mulai menyadari keberadaanku.
“aku ingin terus melindungi senyummu, aku
ingin melihatmu terus bahagia “
tanpa sadar air mata yang selama ini selalu
kutahan mulai mengalir.
“ keindahan, kekaguman dan hangatnya
perasaanku saat melihatmu adalah arti dari gambar 3 helai bunga sakura yang
selalu kububuhkan saat mengirimu hadiah”
aku perlahan
mulai berjalan menjauh namun dari sudut mataku kulihat rin kaget dan menengok
kearahku saat kukatakan 3 helai bunga sakura.
“ kau kah itu yang selalu mengirimiku hadiah
itu? Kenapa? “suara rin yang parau menghentikan langkahku.
“ ya… karena aku sangat menyayangimu rin
“
kulemparkan
senyumku padanya dan berjalan kemudian menghilang di kerumunan, aku dapat
mendengar dia berteriak, namun aku merasa tidak pantas.
Ya… karena aku hanyalah seorang stalker
Aku tidak pantas mendapat apapun
Mengagumi mu dari jauh sudah cukup bagiku
Stories
by Wolfie
Tidak ada komentar:
Posting Komentar