Jumat, 10 Juli 2015

Mr. Stalker

                MR . STALKER

Kulangkahan kakiku senormal mungkin sembari terus berpura pura acuh dengan keadaan di stasiun ini, dengan earphone yang menyumbat kedua telingaku. Pikiranku hanya terfokus kepada gadis yang berjalan beberapa meter di depanku. Tentu saja dengan banyaknya orang disini dia tidak akan menyadari kalau aku sedang mengikutinya, setidaknya itulah yang kuharapkan.


Ah, aku lupa memperkenalkan diri. Namaku serviana, aku kuliah jurusan psikologi di salah satu universitas swasta di kota ini, sedangkan gadis yang sedang kuikuti bernama rin, dia bersekolah di  sekolah menengah atas unggulan di kota sebelah dan mengambil jurusan bahasa. Sehingga menggunakan kereta adalah rutinitas sehari harinya. Menurutku dia cocok mengambil jurusan itu karena dia menyukai sastra, terutama novel-novel terjemahan. Biasanya dia membaca novelnya sembari meminum sercangkir teh hangat dan ditemani biscuit coklat favoritnya. Rambutnya yang hitam tergerai panjang sangat  kontras dengan kulit putihnya yang selalu menggunakan lulur dan shampo beraroma mint. Kau pasti bertanya mengapa aku bisa mengetahui hal detail seperti itu? Mungkin bagi kalian aku dianggap sebagai seorang stalker, tapi hei! jangan cap kata itu pada diriku, aku hanya mencari tahu soal gadis yang kukagumi saja, bukankah wajar kita mencari tahu sesuatu tentang orang yang kita sukai?

Kupercepat langkahku saat Rin—Gadis yang kukagumi--memasuki sebuah angkutan umum, akupun memasuki angkutan umum yang sama dengannnya. Aku memilih duduk dekat dengan pintu sehingga bisa mengawasi siapapun dari sini, karena ini adalah pertama kali aku mengikutinya untuk mencari tahu dimana dia tinggal. Kuperhatikan terus dirinya dari sudut mataku, termasuk perubahan ekspresi wajahnya apabila dia melihat sesuatu di jalan yang menunjukan dia tertarik kepada hal tersebut. Dan tentu saja hal tersebut kucatat ke sebuah buku catatan kecil yang selalu kubawa kemanapun.

20 menit berlalu, angkutan umum yang kunaiki berhenti tepat di depan sebuah rumah yang cukup luas, kulihat dia menyodorkan beberapa lembar uang ke sopir angkot tersebut. Sedangkan aku ? Tentu saja aku tidak ikut turun. Akan sangat mencurigakan jika aku ikut turun bersamanya, jadi kuputuskan untuk turun di gang dekat rumahnya. Setelah kupastikan itu benar – benar rumahnya, aku bergegas pulang ke rumahku untuk melakukan kegiatan rutin, memperhatikan akun media social Rin. Mengagumi foto-fotonya, ikut senang ketika dia megupdate status tentang hal yang terjadi padanya hari itu dan juga merasa tidak berguna saat dia sedih. Aku terlalu takut untuk memulai percakapan dengannya, jadi aku hanya bisa menekan tombol like sebagai ungkapan bahagia maupun turut bersedih.

Hari-hari pun berlalu, hari ini adalah hari istimewa baginya. Dia baru saja memenangkan lomba karya tulis antar sekolah dan mendapat sebuah kado berisi ucapan selamat dan boneka Siberian husky. Aku tersenyum dan mengelike statusnya, aku bahagia karena dia senang hadiah pemberian dariku sekaligus sedikit kecewa karena ia menyangka kalau boneka itu pemberian orangtuanya. Mungkin ia merasa kalau yang mengetahui ia suka husky hanya keluarganya saja.

Jadi darimana aku tahu hal itu ? Mudah saja, Rin memakai tas punggung dengan gantungan kecil berbentuk husky, begitupun pada foto-foto selfie dia di kamarnya, sering kulihat di meja belajar dia terdapat sebuah figure kecil berbentuk husky, dan lagi beberapa foto menunjukan dia tegah memakai kaos dengan gambar husky di depannya. Jadi kusimpulkan dia menyukainya. Ingin rasanya aku berkata padanya “Hei, kau suka dengan hadiah pemberian dariku? “ Namun aku sadar, aku ini siapa? Aku bahkan ragu kalau dia mengenalku hahaha.

Dia mempunyai banyak teman. Haha tentu saja. Gadis manis, baik hati dan menarik sepertinya pasti mempunyai banyak teman dan gampang disukai. Berbeda denganku yang agak kurang beruntung dalam hal bersosialisasi. Kebanyakan  temanku hanya dari forum maupun game online yang kumainkan.

Dari sekian banyak teman yang dia punya,  dia punya 2 orang sahabat yang dekat dengannya, seorang anak laki laki bernama Dion dan perempuan bernama Vita. Jujur aku tidak suka dia mempunyai teman dekat laki laki, tapi dia butuh sahabat yang bisa melindunginya. Meski kesal, apa yang bisa kulakukan? aku bukanlah siapa siapa, bukan pacar pun bukan teman, yang bisa kulakukan hanya  merelakannya saja.

Hari demi hari berlalu, setiap momen dan ada kesempatan, aku selalu megiriminya hadiah--dengan anonim dan hanya membubuhkan gambar 3 helai bunga sakura--hadiah yang berisi hal-hal yang disukai maupun diingikannya. Dan setiap kali itu pula dia selalu mengupdate statusnya. Aku ikut bahagia dan seperti biasa aku like statusnya. Ada perasaan yang tumbuh kurasakan dalam hatiku. Bermula dari sebuah rasa kagum kini aku merasa aku ingin selalu melihatnya bahagia dan menjaga senyumnya yang manis itu sampai suatu ketika…

RIN BERPACARAN DENGAN DION

Pupil mataku membesar ketika kulihat tulisan tersebut diberandaku. Nafasku terasa sesak, telapak tanganku terasa ingin dan ada suatu perasaan yang menghimpit dadaku sehingga perlahan hatiku seakan retak.
Apa ini ? ada apa ini ? apa yang sebenarnya terjadi ?

Pertanyaan demi pertanyaan terus muncul dalam pikiranku. Kucoba tenang dan bergegas mengambil jaketku untuk pergi ke sebuah fast food di mall karena aku melihat Vita mengajak Rin dan Dion ke sana sekarang dikolom komentar. Selama perjalanan pikiranku terus berkecamuk dan tidak tenang, pening serta terasa dingin dan dadaku serasa sesak. Memasuki tempat tersebut aku mengambil tempat di pojok ruangan agar bisa mengamati siapa saja yang datang. Tak berapa lama kulihat mereka datang dan mengambil tempat beberapa meja dekat tempatku berada. Meski samar aku bisa mendengar percakapan mereka.

 Vita mengucapkan selamat pada Rin atas hubungan yang baru saja terjalin. Dan yang lebih mengagetkan. Dion mengaku kalau semua hadiah yang aku kirim sebenarnya adalah pemberian dirinya. Ingin rasanya aku mendekat, membalikan meja itu, meraih kerah bajunya dan memukuli bocah kurang ajar tersebut, kemudian menuangkan kopi panas, menarik telinganya dan berteriak bahwa itu adalah hadiah dariku. Tapi…

Rin saat itu tertawa dan terlihat sangat bahagia, akupun teringat sesuatu. Bukankah aku ingin melihat dia bahagia? Bukankah aku ingin menjaga senyumnya? Jika hal itu kulakukan aku hanya akan membuatnya sedih. Lagipula aku ini siapa? Aku bahkan ragu kalau Rin tahu kami pernah bertemu.

Aku tersenyum simpul, air mataku menetes membasahi pipiku. Kupakai hoodie untuk menutupi kepalaku, saat aku melewati mejanya, tak sengaja aku dan rin melakukan kontak mata. Walau hanya sepersekian detik tapi aku yakin Rin bisa melihatku menangis. Aku harus segera pergi dari sini.

Hari berikutnya terasa muram bagiku,seperti tidak ada semangat dalam diriku. Aku mulai menjauhi teman-temanku, dan aku bahkan  tidak membuka akun media sosialku. Aku harus mengakhiri semua ini. Bukankah aku ingin melihatnya bahagia? Dan sekarang dia tengah bahagia, harusnya aku ikut bahagia juga. Aku tidak ingin dia tahu kalau hatiku hancur karenanya. Dengan berat hati aku mengarahkan pointerku ke profil Rin dan mengeklik tombol batalkan pertemanan.

Ya.. selesai sudah. Mungkin inilah akhirnya, ini lebih baik, semoga kau bahagia selalu Rin. Aku tahu akan menyesali ini dan mulai dari sekarang,aku tidak akan bisa mengagumi dirimu lagi.
Hari dan minggu pun berlalu, semua kujalani dengan senyuman palsuku. Aku menghabiskan waktu dengan kuliah dan bekerja paruh waktu. Agar aku bisa lari dari kenyataan ini dan sejenak bisa melupakan rin. Hingga suatu malam ku putuskan membuka akun social mediaku.

RIN INGIN MENJADI TEMAN ANDA

Hei.. apakah ini mimpi? Dia mengirimiku permintaan pertemanan? Bukankah dia tidak sadar akan keberadaanku?

Ku konfirmasi dan kebetulan saat itu rin sedang online

Kuberanikan diri untuk mengiriminya pesan, ya.. pesan pertamaku setelah sekian lama aku mengaguminya.

hei terima kasih sudah add ‘’

“ iya sama – sama “

“ ^^ “

“ kamu remove aku ? “

“ah enggak kok “

“ ya aku merasa sudah lama tidak melihatmu me-like statusku, jadi aku cek profilmu dan ternyata kita sudah tidak berteman

glek..hei rin menyadari keberadaanku

eh aku off duluan ya, mau istirahat” sambungnya

ok”

aku klik profilnya, apakah rin sakit? Tidak biasanya dia beristirahat jam segini. Yang kulihat hanyalah beberapa share gambar dan status  yang menunjukan dia merasa kehilangan dan merindukan seseorang. Kusimpulkan dia sedang patah hati. Aku ingat besok adalah hari minggu dan seperti biasa seharusnya dia akan ke taman untuk berjalan-jalan. Jadi aku putuskan untuk beristirhat juga dan berencana menemuinya.
Esok paginya aku berangkat ke taman dan seperti yang sudah kuduga, banyak orang – orang yang berekreasi bersama keluarganya. Aku mencari cari Rin dan menemukannya tengah duduk di rerumputan dengan pandangan mata yang kosong. Aku mendekat dan duduk membelakangi punggungnya, namun sepertinya dia tidak menyadarinya.

Hei, kau tahu? Kehilangan memang menyedihkan, apalagi di tinggalkan orang yang kita sayangi. Namun daripada terpaku menunggu yang tak pasti, kenapa tidak mencoba melihat sekelilingmu? Banyak yang peduli kepadamu. Kau tidak sendiri

aku perlahan berdiri dan sepertinya dia mulai menyadari keberadaanku.

“aku ingin terus melindungi senyummu, aku ingin melihatmu terus bahagia

 tanpa sadar air mata yang selama ini selalu kutahan mulai mengalir.

“ keindahan, kekaguman dan hangatnya perasaanku saat melihatmu adalah arti dari gambar 3 helai bunga sakura yang selalu kububuhkan saat mengirimu hadiah

aku perlahan mulai berjalan menjauh namun dari sudut mataku kulihat rin kaget dan menengok kearahku saat kukatakan 3 helai bunga sakura.

“ kau kah itu yang selalu mengirimiku hadiah itu? Kenapa? “suara rin yang parau menghentikan langkahku.

“ ya… karena aku sangat menyayangimu rin

kulemparkan senyumku padanya dan berjalan kemudian menghilang di kerumunan, aku dapat mendengar dia berteriak, namun aku merasa tidak pantas.

Ya… karena aku hanyalah seorang stalker

Aku tidak pantas mendapat apapun

Mengagumi mu dari jauh sudah cukup bagiku 
                Stories by Wolfie


Tidak ada komentar:

Posting Komentar