Autistica Academy : twins pervert and mysterious girl
Shandel pov
Angin berhembus dengan kencang di atap sekolah Autistica akademi sama sekali tidak menghalangi niatku untuk bersantai sepulang sekolah di tempat itu, tempat favoritku. Aku selalu mengucir rambutku, jadi ada anginpun tidak akan menganggu aktivitasku sekarang ini. Memakan roti isi sayuran yang sehat dan mengenyangkan.
"Hmm.. Sebaiknya apa yang harus kulakukan ya?" Gumamku sambil menatap awan yang bergerak lambat.
Bel pulang sudah berbunyi beberapa menit yang lalu, membuat atap dalam keadaan sepi dan kosong. Murid-murid tentu lebih memilih segera pulang atau melaksanakan aktifitas klubnya dibandingkan beradadi atap dan menatap langit seperti diriku ini. Karena itulah sepulang sekolah atap menjadi tempat favoritku, tempat yang tenang untuk mengistirahatkan diri dan bersantai tanpa perlu mendengar omong kosong orang lain di luar sana hingga matahari terbenam nanti.
Kubaringkan badanku di atas kursi yang disediakan di atas atap, ah sebenarnya sepulang sekolah atap memang dilarang untuk digunakan sih... Tapi sekali-kali melanggar peraturan tidak apa kan?
Kupejamkan mataku sembari menikmati angin yang memainkan poni rambutku, samar-samar terdengar langkah kaki yang mendekat namun tidak kuambil pusing.
Bisa sajakan ada orang yang memang sedang ingin menyendiri di atap dan-- eh tunggu kenapa menjadi lebih gelap yah? Matahari tidak mungkin turun secepat ini kan?
Perlahan kubuka mataku dan yang memasuki indra penglihatanku adalah rambut berwarna biru dan sepasang tanduk............
*plak!*
"Kyaaaaaaaaa!"
Editor POV
Beberapa saat yang lalu...
"FLAT IS JUSTICE!!" Midnight berteriak sambil menggebrak meja, membuat hampir seluruh kelas memperhatikan tiga orang yang tengah mendiskusikan sesuatu hal yang tidak sepatutnya di diskusikan. Beruntung Uce tidak ada di kelas pada saat itu, kalau ada sudah tamat riwayat ketiga orang itu sedetik setelah Midnight berkata seperti itu.
"Oii... Oii... Hal yang paling indah di dunia ini ya Oppai! OPPAI bro! O P P A I!" Ujar Fahri sambil menggerakkan kedua tangannya seperti sedang menggambarkan sesuatu yang bulat dan besar, "Oppai ada keindahan terbesar dunia ini, oppai adalah anugerah yang dititiskan para dewa untuk semua makhluk di dunia ini.." tambahnya sambil berdiri dan mengangkat tangannya keatas, dan mengatakannya dengan berapi-api.
(Editor Note: Dasat Fahri emak Otak Mesum!)
Fly sendiri hanya terdiam tak bisa berkata apa-apa, reaksi setelahnya hanya menepuk jidat dan menggeleng-nggeleng saja. Sama sekali tidak habis pikir bagaimana bisa dirinya bisa berteman dengan kedua makhluk ekstra aneh bin ajaib itu. Mungkin dunia sudah jumpalitan sehingga apapun bisa terjadi--Ups! lupakan barisan kalimat barusan, itu hanya perkataan tambahan dari editor yang sedang tidak jelas keadaan pikirannya ini.
Tapi sungguhan deh! Minta di hajar dua orang itu, fly sih sepertinya juga akan kena imbasnya, sayangnya Uce tidak sedang berada di kelas jadi yasudah deh... Mereka pun selamat dari jitakan mautnya.
Sudah jadi rahasia umum memang kalau Midnight dan Fahri memiliki otak mesum tingkat tinggi. Bahkan mereka punya sebutan lo di kelasnya, Twin Pervert. kampret kan? Ehh hebat kan? Lihat saja mereka, hampir setiap kali istirahat berduaa--dan kini bertiga karena ketambahan Fly--selalu membicarakan perkataan yang tidak penting untuk dibahas seperti tadi.
Mungkin karena memang sama-sama berotak mesum keduanya bisa saling akrab dan berteman baik kali ya? Bel pulang sekolah baru saja berbunyi, seperti biasa duo mesum itu hendak pergi ke maid cafe. Memandangi para maid cantik nan imut disana dengan pandangan mesum tentu saja--Ups terbuka deh aib mereka, yah daripada dibuat mereka homo? Ya kan Teehee? Fly yang biasanya jarang ikut kali ini pasrah mengikuti keduanya karena memang dia tidak memiliki kerjaan lainnya.
Ketiganya baru saja menginjak halaman depan gedung akademi itu, entah kebiasaan atau firasat Fly menoleh ke atas langit atap dan melihat seorang gadis dengan rambut berwarna perak yang pernah dilihatnya sewaktu dirinya pertama kali bertemu.
"Bro!" Ujarnya sambil menepuk bahu kedua temannya itu. "Maaf nih, kayaknya tidak bisa ikut lagi ni. Ada hal yang harus ku lakukan... Duluan ya!"
Fly segera berbalik arah dan berlari kembali kedalam akademi.
Midnight dan fahri menatapnya heran, "Ngapain tu bocah maso masuk lagi ke akademi?" Midnight lah yang pertama kali mengungkapkan keheranannya, yang ditanggapi Fahri dengan mengangkat kedua bahunya menandakan dirinya juga tidak tahu.
Seketika senyum misterius tercetak di wajah keduanya "Ikutin saja dia!" Ujarnya berbarengan sambil menyusul Fly masuk ke dalam gedung akademi.
Nafas Fly terengah-engah karena harus berlari dari lantai dasar hingga ke atap yang jarangnya sangat jauh. Ditambah lagi harus menaiki puluhan anak tangga sambil berlari, beruntung dirinya hanya setengah darah Clerk, kalau seutuhnya mungkin saja Fly sudah pingsan karena kelelahan. Kalian masih ingat kan? Kemampuan Fisik Clerk sangat lemah jauh dibandingkan manusia.
Fly mendapati gadis berambut perak itu tengah berbaring di sebuah kursi dan menutup matanya.
Fly melangkah mendekati gadis itu, bukan karena ingin berbuat mesum kok--Yang mesum dicerita ini hanya Midnight dan Fahri saja kok, mungkin sih--Tapi karena Fly khawatir terjadi apa-apa dengan gadis itu.Fly agak sedikit mencondongkan badannya ke arah gadis itu, meneliti apakah gadis itu baik-baik saja, masih hidup atau tidak...
*PLAK!*
Dan sebuah tamparan manis mendarat dengan indahnya dipipi Fly, sesaat setelahnya sudah bisa dipastikan... Gadis itu berteriak dengan feminimnya.
Setelah shandel telah meredakan perasaan horornya gadis itu mengubah posisinya menjadi duduk dan diam sambil menatapi kedua tangannya yang dimainkannya di pangkuannya.
Suasana hening meliputi atap itu dan Fly yang masih mengelus-elus pipinya akhirnya membuka suara."Maaf.. Aku mengagetkanmu ya?" Tanya Fly dengan polosnya, tanpa meminta ijin dan tanpa disuruh Fly duduk tepat disamping Shandel yang masih saja melihat kuku jarinya yang dimainkan di pangkuannya.Hening..Tidak ada respon, dan hal ini menyiksa Fly yang bingung bagaimana menghadapi situsi seperti ini.
"Engg... Jadi.. Apa yang kau lakukan sendirian di sini?"
Diam, gadis itu masih saja menunduk menatap kakinya, mungkin mencari semut--eh!kembali kecerita.
Fly mulai menggaruki tengkuknya yang sama sekali tidak gatal itu "Err.. Ano.. kau pakai dasi warna merah.. Artinya seangkatan denganku ya? Kelas mana?" Dan gadis itu masih saja terdiam.
Padahal Fly ingin mendengar suara manisnya lagi, maksudnya ya ingin mengobrol gitu. Kan tidak enak mengobrol sendirian begini, seperti orang gila saja.
"Ah begini...Namaku Fly dan kita sempat bertemu beberapa hari yang lalu.. engg aku menabrakmu dan belum sempat minta maaf ja--" Belum sempat Fly menyelesaikan monolognya sebuah tangan melingkari lehernya dan mencekiknya. Tidak sungguhan sih, tapi mampu membuat Fly terkejut dan refleks menatap keatas. Dirinya menemukan Fahri sedang tersenyum mesum kepadanya.
"Kau bilang kau ada urusan!" Midnight yang entah kapan sudah berada di depannya mulai bersuara dengan penuh penekanan.
"Tapi apa! Kau menghianati kami Bodoh!"
"Haa?" Fly yang baru saja berhasil lolos dari pitingan Fahri melongo kaget, dirinya tentu saja tidak merasa menghianati keduanya.
"Kau bilang kau Jomblo! Tapi apa? Kau menolak ke maid cafe bersamaku ddan malah asyik berduaan dengan Gadis cantik ini!"
Cecar Fahri sambil sesekali memberikan kedipan pada Gadis yang kini menatap ketiganya dengan pandangan yang penuh dengan kebingungan, sayangnya gadis itu masih saja diam.
Midnight memegang dagu Fly dan menahannya kesamping, mengamati pipinya yang merah. "Dan apa ini?! Kau baru saja dicium oleh gadismu ini eh?"
Dilepaskannya dagu Fly. Midnight mengambil saputangan Fahri dan mulai mengigitinya sambil menangis tersedu-sedu.
"Kau baru saja menghianati persahabatan antar jomblo!
"Fahri menepuk punggung Midnight, berusaha menenangkannya sambil memandang Fly dengan tatapan horor.
"Pfft! Buahahahahahaha!"
Dan seketika itu juga Gadis itu tertawa terpingkal-pingkal melihat aksi kocak ketiganya.
"Apa-apaain ini? Pfft--Parodi gagal? Apaan itu? Persahabatan antar jombol ahahah Dan lagi kau! Pfft"
Shandel berusaha menahan tawanya dan menunjuk Fahri yang masih mendaratkan tngannya di punggung Midnight." Kalian homo ya?"
Dan meledaklah sudah tawa Shandel.
Di lain tempat...Sementara keempat orang itu bercakap-cakap dengan hebohnya dari atas gedung yang terletak di depan gedung akademi Autistica tampk dua orang gadis dengan seragam bertuliskan 'Xenovia Academy'
"Ohh.. Jadi dia yang disebut Blue Haired Demon...Bagaimana menurutmu?"
"Lumayan tampan.. Aku ingin mencicipinya nih.."
Seru perempuan dengan rambut panjang sambil memasang senyum misterius diikuti gerakan menjilati jari telunjuknya.
Sebuah tawa kecil manis nan misterius teruncur dari bibir gadis itu.
"Hei.. Bisa hentikan itu?" Celetuk seorang laki-laki berkacamata dengan seragam Xenovia muncul dari belakang keduanya
"Jadi apa yang akan kita lakukan?"
Kedua gadis itu menatap satu-satunya pemuda itu dengan tatapan sadis dan senyuman mengerikan yang bisa kalian bayangkan,
"Tentu saja seperti yang biasa kita lakukan..". Ucap keduanya bersamaan.
Kembali ke atas atap Autistica.
Keempatnya masih bercakap-cakap dengan begitu hebohnya, percakapan sebenarnya didominasi oleh Fahri dan midnight dengan obrolan mesum mereka.
Fly dan Shandel hanya terdiam mengamatinya dan terkadang Shandel tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Fahri dan Midnight.
"Hei hei kalian tahu tidak si Uce?" Celetuk Fahri tiba-tiba.
"Kenapa?" Midnight terdiam dan mengamati Fahri dengan pandangan horor sedangkan Fly? Fly melihat dengan mata penasaran, Uce kan teman bangkunya dan kini tiba-tiba Fahri mengangkat kedalam percakapan mereka yang tentu saja membuatnya tertarik.
"Uce itu dengan penampilan rapi dan bagaikan anak rajin sebenarnya..."Ketiganya menatap Fahri dengan serius, penasaran akan apa yang akan dikatakan Fahri selanjutnya.
Tanpa disadari keempatnya sesosok gadis berambut panjang telahberjalan mendekatinya diam-diam, perlahan tanpa suara." Sebenarnya.. OPPAI!!! OPPAI BRO!! huahahaha OPPAI is justice! ErG!" Dan seketika itu juga Fahri terjatuh ke lantai dengan benjol di kepalanya tidak sadarkan diri.
Midnight, fly dan Shandel menatap sosok itu penuh dengan ketakutan dan menggeleng sambil berkata ampun.
"Atap dilarang untuk dimasuki seusai sekolah!"
Suara tegas nan feminim keluar dari sosok gadis itu, gadis berambut biru dan selalu memasang senyum palsu itu. Gadis yang memiliki nama Lucelia. Uce memang masih memasang senyum, namun senyumnya kini penuh terror, bagaimana tidak? Dirinya baru saja menjadi bahan gosip keempatnya dan dirinya yang sedang mengalami badmood luar biasa mendapati pemuda yang baru saja dijitaknya hingga pingsan itu berkata mesum tentang dadanya.Ketiganya hanya tertunduk kaku, takut terkena jitakan gadis itu juga.
'' Ck! Sudah sana kalian pulang.." Usir Uce dengan kesal, tidak perduli lagi dengan image imutnya yang hancur di depan murid baru dan gadis itu--Kalau di depan Fahri dan Midnight memang sudah lama hancur, karena setiap kali kedapatan keduanya berkatamesum Uce akan menjitaknya hingga benjol--"Dan jangan lupa bawa mayat hidup itu.Setelah keempatnya pergi Uce mendudukan dirinya ke kursi dan menatap langit yang mulai berwarna merah,
"Haah.. menganggu saja.."
Chapter 2 End
Tidak ada komentar:
Posting Komentar