Jumat, 26 Februari 2016

[ Multi Chap ] Autistica Academy ch 3

chapter 3 : poker face girl & another academy student




UCE POV

Bel pulang sekolah berbunyi nyaring, satu persatu murid mulai membereskan mejanya dan beranjak pulang ataupun pergi ke klubnya masing-masing. Keadaan kelas sudah mulai sepi, ku copot 'topeng' yang selama beberapa jam ini kupasang. 
Kuhela nafaasku lelah, pulang sekolah memang jam yang paling kutunggu. Aku tidak perlu memasang topeng senyum yang memang sudah selalu ku pasang. 
"Dan hari ini yang paling melelahkan.." Satu hari lagi yang terlewat dengan topeng yang senantiasa kutempel, hari dimana aku harus tersenyum meski dalam keadaan kesal sungguh melelahkan. Seperti misalnya saat temanku ingin menyalin pekerjaan rumah yang tidak dia kerjakan, sejujurnya aku kesal. Kenapa mereka tidak mengerjakannya di rumah dan selalu mengandalkanku? Namun aku takut... Takut bila itu kulakukan aku hanya akan kehilangan teman. 
Dan hanya satu hal yang bisa ku lakukan ''tersenyum'' gumamku lesu.
Kutempelkan pipiku di atas meja sambil menghela nafas yang sudah entah keberapa kalinya itu. Iris mataku memandang bangku tempat murid pindahan itu, jelas sudah kosong. Mungkin pergi bersama duo maniak itu entah kemana.
"Tapi Fly seperti tidak pernah tertarik pada obrolan mesum mereka... Jangan-jangan..." Kugelengkan kepalaku untuk mengusir praduga tergila yang hampir merasuki pikiranku.
Kuambil tasku dan membereskan mejaku, "Sebaiknya ke atap saja menenangkan diri sebentar.." 
Saat berada di lorong ku sapa beberapa temanku-tentu senyumnya sudah kupasang sedaritadi-, saat menaiki tangga iris mataku melihat kengo yang turun sambil membawa barang memandangku datar. 
Kubuang mukaku ke samping, berusaha untuk tidak melihat wajahnya. Kengo melewatiku tanpa berusaha mencegahku, ada rasa sesak di dalam hatiku mendapati  responnya. 
Aku termenung sejenak, memikirkan segala hal mengenaiku dan Kengo. 
Mungkin ini memang akhir dariku dan kengo, sedikitnya sudah kurasakan bahwa kengo mulai menjauhiku.
Bahkan mereka pun telah menjauh dari sisiku, mungkin memang sudah saatnya diakhiri? Kembali kuhela nafas panjangku dan mulai kembali menapaki tangga menuju ke atap. Samar-samar kudengar suata tawa dari arah atap. 
Seharusnya atap dilarang dimasuki sepulang sekolah, semakin mendekati atap aku bisa mendengar beberapa suara. Suaranya sangat Familiar, Aku mengetahui suara ini... Suara salah satu dari duo maniak itu."Sedang apa mereka?"  Perlahan aku mendekatinya, penasaran akan apa yang mereka bicarakan.
'' Kalian tau tidak uce? ''kudengar fahri menyebut namaku, awas saja kalau dia berkata yang tidak-tidak, akan kuhajar dia.
'' Sebenarnya OPPAI !! OPPAI bro!! buahaha.. oppai is just.. ergghh"
kujitak fahri dengan sekuat tenaga, sampai menimbulkan luka benjol dikepalanya dan tak sadarkan diri.
'' Atap dilarang untuk dimasuki sepulang sekolah ''aku berteriak kepada tiga orang di.depanku, aku tak peduli lagi bahwa image ku rusak di depan anak baru dan gadis -siapapun namanya - itu.
''Sudah kalian pulang, dan jangan lupa bawa mayat hidup ini'' sambungku 
selepas mereka pergi, kududukan tubuhku sambil menghela nafas
'' Hah.. mengganggu saja '' 
Terkesan curang memang, aku ingin berada di atap yang tidak boleh digunakan setelah mengusir mereka dengan alasan atap tak boleh digunakan. Tapi apa peduliku? Sekali-kali menggunakan kekuasaan tidak apa kan ya? Lagipula aku mungkin hanya sebentar saja kok di sini. 

End POV


Disebuah cafe di sudut koya Navea, seorang maid dengan tag name 'Rarachibi' menghampiri sebuah meja yang berisi tiga orang,setelah menulis pesanan makanan mereka, pelayan tersebut kembali ke dapur.
'' Kenapa cemberut seperti itu rarachan? ''
Seorang koki dengan tag name 'Qoochan' mengambil kertas pesanan tersebut kemudian menyiapkan bahan-bahan dan mulai membuat pesanannya.
" Huh, itu para clerk, kalau saja mereka bukan keturunan orang kaya, aku tak mau melayani mereka " umpatnya dengan kesal.
" Hei.. hei, biar bagaimanapun mereka tetap pelanggan kita, jadi berhenti mengeluh dan kembali bekerja, ingat tetap tersenyum ya .. " seorang lelaki berperawakan montok yang merupakan pemilik kafe tersebut datang dari balik pintu.
" baik Khentoenk-san " ucap Rara dan Qochan bersamaan.


Sementara itu dimeja tadi, tampak 3 orang clerk dengan seragam  Xenovia Academy, 2 orang perempuan dan 1 laki laki tepatnya.

" Apa pendapatmu tentang itu jun-kun " Seorang perempuan berambut panjang berwarna perak bertanya sembari mengaduk teh hijau nya, namun Junsky - nama laki laki tersebut - hanya melamun memperhatikan Rara yang sedang bekerja dengan lincah dan senyum di wajahnya menerima pesanan para tamu.
" Junsky, apa aku kurang menarik untukmu? mengapa kau masih memperhatikan wanita lain? " Emilia - perempuan berambut perak tersebut - berbisik lirih dan meniup pelan daun telinga junsky dari belakang secara tiba tiba membuat Junsky berjengit kaget.
'' Kalian cocok sekali, hoho, kenapa tidak secepatnya menikah saja? '' 
Seorang perempuan berambut pendek berwarna merah muda dan berkacamata menggoda mereka berdua kemudian kembali menyeruput lime squash yg berada ditangannya.
''Oh...Ayolah lea, kau pikir ku mau menikah dengan perempuan psycho seperti dia?'' Junsky menatap leavana -nama perempuan tersebut- sembari membetulkan letak kacamatanya yang sempat melorot karena terkaget tadi.
Sambil menggumamkan berbagai kata keluhan Emilia  duduk kembali di samping Lea kemudian menyilanglan kakinya sembari menggigit batang bunga mawar tanpa duri yang selalu di bawa nya. 
Dan suasana pun menjadi hening seketika, baik Emilia maupun jun sudah mulai mendalami kegiatannya masing-masing.
''Ternyata legenda tentang demon clerk itu benar adanya, kabarnya demon clerk adalah ras clerk tingkatan paling tinggi yang suatu saat akan menjadi penguasa dunia ini jika tidak ada yang menghentikannya '' Lea mulai membuka pembicaraan karena anara junsky atau emilia saling diam.
'' dan sepertinya, rumor itu belum menyebar di Autistica, terbukti dengan belum adanya tindakan dari para murid akademi tersebut '' tambahnya sembari menghabiskan lime squash yang tersisa.
"Jadi untuk sementara, sebaiknya kita  biarkan seperti itu saja, memburu mangsa dimana mereka dianggap mangsa oleh orang lain juga tidak akan menyenangkan bukan ? '' Emilia hanya mengangguk menimpali sambil menempelkan jari telunjuknya di depan bibirnya karena sadar pesanan mereka sudah datang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar