Delapan tahun berlalu, Mia kini berganti profesi yang awalnya bekerja di perusahaan steve menjadi seorang novelis rumahan setelah melahirkan bayi kembarnya. Bekerja dirumah sambil merawat anaknya jauh lebih menenangkan dibandingkan harus bekerja di perusahaan, lagipula novelnya lumayan laris dan dia mampu menopang hidup kedua anaknya dan dirinya meski Steve tidak pernah membiarkannya. Hingga sekarang Steve selalu membiayai kehidupannya dan kedua anaknya Alex dan Altamyra. Mia merasa sangat bersyukur akan keberadaan Steve yang menjadi figur ayah bagi anak-anaknya, bahkan Alex mulai mirip dengan Steve akhir-akhir ini.
Mia yang tengah memasak sarapan menoleh ke bawah ketika merasakan sebelah kakinya dipeluk, "mom... Hungry" Ujar Altamyra sambil terus memeluk sebelah kaki Mia, Mia tersenyum senang melihat anak perempuannya telah bangun dan mengusap lembut kepala gadis itu. "Sebentar lagi sayang, cuci muka dan sikat gigi dulu sana... Bangunkan Alex dan Steve juga ya" Di kecupnya pipi chubby Altamyra sebelum membalikan badan gadis itu untuk menyuruhnya melaksanakan apa yang dia suruh. Mia kembali menekuni acara masaknya yang sempat tertunda dan saat semuanya sudah selesai Altamyra berlari-lari kecil dan menarik celana Mia untuk mendapatkan perhatiannya.
"Mom! Steve sama Alex tidak mau cuci muka dan sikat gigi tuuuh"
Steve yang masih setengah sadar berjalan bersama Alex--yang bergantung di kakinya bagai koala--perlahan ke arah ruang makan sambil sesekali menguap.
"Steve, Alex go wash your face!" dan hanya gerutuan tidak jelas yang keluar dari mulut Steve, "Or no Chocolate pie for you today~"
"What? No Mom! I want Choco pie!!" Alex yang masih setengah tidur di kaki Steve membelalakan matanya dan memasang wajah kesal, pai coklat merupakan kesukaannya dan Steve memang. Keduanya memiliki selera yang sama bahkan sifatnya hampir mirip.
"Mia, Jangan jahat begitu padaku... Kau tau tanpa Pai coklat hidupku tidak lengkap..." Ujar Steve dengan wajah memelas yang selalu berhasil membuat Altamyra tertawa.
"Kalau begitu cuci muka sana!" Tidak perlu menunggu lagi dan keduanya segera melesat ke kamar mandi untuk mencuci mukanya.
"Snack hari ini pai coklat mom?" Altamyra cemberut ketika mengucapkan kata coklat, kebanyakan anak kecil memang menyukai coklat tapi tidak untuk gadis kecil itu. Altamyra tidak menyukainya dia lebih suka makanan yang asin dibandingkan manis.
"Iya, Myra mau apa? Kau tidak suka coklat kan? mama akan buatkan sesuatu untukmu..."
Altamyra terdiam sejenak, berpikir sejenak. "I want... risola keju!"
"Risola? Ah risoles?" Mia memang pernah membuat makanan kesukaannya sewaktu di Indonesia itu, dan Saat Altamyra mencicipinya gadis itu bisa menghabiskan tiga buah sekaligus saking sukanya. "Baiklah, nanti mama buatkan..." Dan pagi itu suasana makan pagi terasa hangat seperti biasanya. Steve yang baru menghabiskan setengah sarapannya mendapatkan sebuah telepon dari kantornya yang membuat keningnya mengkerut kesal, Steve paling tidak suka bila di ganggu di pagi hari dan semua pegawainya tentu sudah tahu hal itu dan bila dia mendapatkan telepon berarti itu hal yang mendesak.
" Aku akan lembur malam ini, sialan."
"Sudah-sudah, sudah kubungkuskan kok pai coklatnya untuk kau bawa ke kantor... Nanti juga akan kubawa Alex dan Altamyra mengunjungi kantor, kau memerlukan bantuanku untuk mengecek perkembangan programku kan?" Mia memang sekali-kali mendatangi kantor Steve untuk mengecek programnya yang tengah dikembangkan oleh pegawai terbaik Steve. "Memangnya kenapa harus lembur?"
"Ada masalah sedikit, padahal hari ini ada kunjungan dari teman lamaku yang sedang studi banding di perusahaan di sini sekalian darmawisata... dan kau tahu aku lebih mementingkan teman dibanding perusahaanku sekarang. Jadi aku harus mengeceknya setelah temanku selesai yang kemungkinan akan sampai sore nanti."
Steve memang telah banyak berubah di bandingkan saat mereka pertama bertemu, dulu Steve terkenal egois dan hanya mementingkan perusahaannya tapi akhir-akhir ini dia lebih mementingkan orang sekitarnya semenjak Altamyra dan Alex lahir. Memang benar ya, saat seorang pria menjadi ayah akan banyak yang berubah, meski Steve bukan ayah kandungnya tapi Steve sudah menjadi sosok ayah yang baik bagi kedua anaknya itu.
"Yasudah, nanti sekalian kubawakan makan malam..." Steve tersenyum dan mengangguk, setelah menyelesaikan sarapannya dia segera bersiap-siap untuk pergi ke kantor.
"Dad! Be carefull 'kay~" Kedua anak kecil itu mengantar keberangkatan Steve seperti biasa dan setelah dicium oleh keduanya, Steve pun pergi dengan wajah berbunga. Mereka memang selalu bisa membuat hari-hari Steve dan Mia menjadi berbunga-bunga.
Mia memang sudah biasa meninggalkan anaknya pada pegawai kantor ini karena hampir semua pegawai kantor sudah mengenalnya dan lagi Mia tidak bisa mengajak keduanya untuk mengikutinya ke tempat pengembangan programnya karena pasti akan rewel saking bosannya.
"Baiklah... Saatnya meninjau..." Meski sebenarnya Mia tidak terlalu diperlukan tapi Mia bukan tipe orang yang bisa langsung melepas tanggung jawab, dia memang percaya tapi tetap harus memantau perkembangannya secara berkala dan tidak ada yang keberatan dengan hal itu.
Alex dan Altamyra bergandengan tangan sambil mengikuti petugas keamanan yang berjalan selangkah di depannya, dia yang mengantar mereka ke tempat Steve berada. Steve saat ini berada di lantai 20 sama seperti Mia namun berbeda ruangan, kalau saja Mia tahu mungkin Mia-lah yang akan mengantarnya tapi karena biasanya Steve berada di kantornya yang berbeda lantai membuat Mia selalu menyerahkan tugas mengantar anaknya pada pegawai keamanan maupun staff front office yang sedang senggang.
"Daddy!" Alex berlari menerjang Steve setelah petugas itu membukakan pintu sedangkan Altamyra masih berjalan perlahan di belakangnya.
"Alex! Behave" Altamyra merengut kesal akan sikap Alex yang tidak memperdulikan sekitar, padahal jelas-jelas ada orang lain yang berada di ruangan itu.
"Oh, Alex Altamyra kalian sudah datang?"Steve menggendong Alex dan mempersilahkan petugas itu pergi setelah mengucapkan terimakasih. "Apa yang kalian bawa hm?"
"Pai coklat buatan mama!" Ujar Alex dengan bersemangat sambil berharap dirinya bisa ikutan memakan makanan kesukaannya itu. Atamyra hanya mendengus kesal karena dicueki Alex, "Myra bawa Rise--umm risola keju untuk makan siangku dan bekal untuk makan malam daddy..." Ujarnya sambil menyerahkan bungkusan yang dibawanya pada Steve.
"Steve mereka anakmu? Sejak kapan kau menikah?" Alex dan Myra memandang lelaki yang melontarkan pertanyaan tersebut, sesaat kedua anak kecil itu memandang dengan polos dan ketika Myra menyadari warna mata pria itu--Aqua blue, yang sama dengan warna matanya dan Alex--seketika itu juga Myra tidak menyukai pria itu.
"Mereka sebenarnya bukan anakku, tapi aku sudah menganggapnya sebagai anak kandungku Georg..."
"Meski bukan ayah kandungku Steve adalah Ayahku seorang!" Ujar Myra dengan garangnya pada pria bernama Georg itu. "and no one can replace him!" Steve senang tentu saja, tapi sedikit heran melihat tingkah Altamyra yang biasanya tenang tiba-tiba menjadi emosi seperti ini.
"Myra! Dia punya warna mata yang sama dengan kita!" celetuknya ketika menyadari hal itu. Myra hanya membuang muka dan menggerutu 'aku juga tau alex bodoh'.
George mengacak-acak rambut Alex dan tersenyum ramah. "Warna mata yang jarang dimiliki orang, kau harus bersyukur..." Alex hanya tersenyum senang dan dengan semangatnya menjawab iya, "Mereka lucu... Alex dan Myra bukan?"
"Yeah, Alex myra perkenalkan dirimu pada sahabat Ayah, jangan nakal ya..." Ujarnya khusus pada Altamyra yang masih tidak ingin melihat George.
"Alex Steford! dan adik perempuanku Altamyra Steford" Alex memperkenalkan dirinya dan adiknya yang pastinya tidak ingin memperkenalkan diri.
"Dad, masih lama? kalau iya aku ingin menemui mama saja..."
"Mama kan sedang kerja, kau pasti bosan ... bagaimana kalau kita makan siang? George mau ikut? Pai buatan Mia sangat enak loh dan juga resoles keju kesukaannya yang paling enak!" Steve menggandeng Altamyra yang masih saja memasang wajah merengut kesal saat Steve mengajak George ikut makan siang.
"Resoles keju ya.. dia juga sangat menyukainya..." George tersenyum sedih ketika mengucapkan kata dia, "Baiklah, sudah lama aku tidak memakan makanan itu." keempat orang tersebut berjalan menuju lift dan ketika pintu lift menutup samar-samar George mendengar suara yang familiar di telinganya, suara wanita yang hilang delapan tahun yang lalu. "Ah mungkin hanya perrasaanku saja" Bisik George pada dirinya sendiri.
"A-a.. am i interrupted you Steve?" Ujarnya ketika berhasil meraih kesadarannya, Mia berusaha tidak menatap George dan menfokuskan pandangan matanya pada Steve yang masih menggendong alex. Meskipun Mia yakin George tidak akan menyadari bahwa Mia adalah Rina tetap saja dirinya takut, Mia memang mengalami banyak perubahan dibandingkan saat kuliah dulu. Kini tubuhnya jauh lebih berisi dibandingkan saat kuliah, beruntung pula hari ini Mia mengenakan lensa mata dan mengecat rambutnya beberapa hari yang lalu.
"Ah No.. Kau datang tepat waktu Mia, kami akan makan siang dan pastinya kau akan ikut bukan?"
"Ye-yeah Ofcourse... aku benar-benar lapar kau tahu" Mia melepaskan pegangannya pada ganggang pintu, menutupnya setelah melangkah masuk dan berjalan perlahan menuju meja yang tersedia untuk tamu di kantor Steve. Mia segera duduk tepat di sebelah Steve dan memangku Myra yang masih saja terdiam.
"Dia temanmu yang kau ceritakan saat sarapan tadi Steve?" Steve hanya mengangguk sembari membongkar bekal makan siang mereka, dessert dan risoles kejunya akan dimakan setelah makan siang tentu saja. "Well Perkenalkan, Mia Steford" Mia mengulurkan tangan pada George yang masih terdiam sedaritadi yang menatapnya penuh selidik, tatapan itu semakin tajam saat menyambut uluran tangan Mia dan menyebutkan namanya dengan tajam "George''.
Mia sekilas melihat cincin yang melingkar ditangan George, cincin pernikahan. Ternyata memang benar apa yang dipikirkannya dulu, George sudah menikah dan mungkin itu dengan sahabatnya. Tak bisa dipungkiri, sejujurnya Mia sedih dan kecewa tapi hal itu tak ditunjukannya saat ini. Mia hanya tersenyum manis, memasang topengnya kembali, mekipun selama ini Mia tidak mengenakan topengnya tapi Mia tetap yakin. Kemampuan memasang topengnya tidak akan pernah menurun.
Selama makan siang Mia mencoba menfokuskan dirinya pada Myra yang tiba-tiba saja menjadi sangat manja di hari itu, "Berhenti menatap Mommy!" Alex berteriak sesaat setelah selesai melahap pie coklat miliknya. George menatap pemuda kecil itu dan tersenyum. "I am sorry kiddo, Aku hanya... merasa pernah melihat ibumu"
"Jangan cari alasan!!"
"Alex." Alex sebenarnya masih ingin berteriak kesal, tapi mendengar nada bicara ibunya yang tajam membuatnya terdiam seketika dan kembali mengambil sepotong pie coklat.
"Maafkan Alex, dia hanya sedikit overprotektif padaku ahahaha" Mia terkekeh geli, "Adakah seorang yang mirip denganku?"
"Aku tidak bilang mirip... aku berkata merasa pernah melihatmu" Ujar George penuh penekanan disetiap katanya, membuat Mia terkejut.
"Ah, i-itu karena aku tidak pernah merasa melihatmu jadi kupikir kau .. aku.. emm ada yang mirip denganku"
Steve memandang Mia yang gelisah dengan heran, tidak seperrti biasanya Mia terkesan gelisah dan gugup. Steve segera mengalihkan perrhatian George pada dirinya, "Kau sudah menikah George? Kenapa tidak mengajak istrimu?"
'Bagus, pertanyaan yang sangat ingin kuhindari malah ditanyakan steve...' Mia menghela nafas lelah, ingin rasanya pulang tapi Mia juga penasaran.
"Ya..." George yang mengalihkan pandangannya pada Steve kembali memandang Mia, "Rina.."
Tubuh Mia tegang mendengar nama yang dulunya dia gunakan disebutkan George dengan sangat jelas, pandangannya dialihkan kearah lain. Mia meremas ujung gaun miliknya hingga kusut, mencoba menghilangkan ketegangannya. sembari menggumamkan mantra bahwa dia salah dengar, mungkin yang dimaksudkan Lina bukan Rina.
"Dia menghilang beberapa tahun yang lalu, tapi sepertinya kini telah kutemukan kembali..." George bangkit dari kursinya, berjalan kearah Mia dan menatapnya dengan tajam. "Right. Rina? I Mean.. Mia Steford?"
"A-ahaha Apa maksudmu Georg? W-who is Rina?" Mia menunduk, mengalihkan pandangannya kebawah demi menghindari tatapan Georg
"Berhenti mengalihkan pandanganmu dan tatap mataku Rina"
"H-huh? Me? I am Mia.... bukankah aku telah memperkenalkan diriku tadi?"
"Ah.. kau pikir mengganti namamu dan penampilanmu mampu menipuku yang telah mengenalmu sangat lama?"
Mia hanya terdiam, mengangkat wajahnya dan tersenyum miris, Remasan tangannya pada gaunnya di lepaskannya. Mia memeluk Myra yang masih di pangkuannya dengan posesif.
"Aku benar-benar tidak tahu siapa Rina, Mungkin kau salah orang?" Mia menoleh ke arah Steve "Steve aku pulang dulu saja, rasanya perutku mual, Ayo Alex kita pulang"
Mia segera berdiri, menurunkan Myra yang segera menggandeng Alex dan berjalan mengikuti ibunya.
"Jangan kau coba-coba untuk pergi lagi!" Georg menahan lengan Mia dan menariknya agar Mia menghadap dirinya. "Kau tidak tahu betapa sedihnya tante akan kepergianmu? Kematian palsumu! Aku sudah merasa aneh saat itu, kau tidak mungkin mati dengan mudahnya! kembalilah Rina, Ibumu sangat sedih.... ibumu, ayahmu, Lina"
"Aa... Apakah kematianku menyulitkanmu?" Mia mendengus, senyum miris tidak lepas dari wajahnya. "Bukankah dengan kematianku kau jadi bisa menikah dengan Lina atau wanita yang kau mau? Cincin pernikahan itu bukanlah cincin perrnikahanmu denganku... Jadi bukankah kau sudah bahagia bersama gadis lain? bukankah kau yang menginginkan kematianku? kau saat itu ingin bercerai bukan? dan dengan kematianku mempermudah semuanya?Anggaplah pertemuan ini tidak ada. Aku Mia Steford, Rina telah mati"
Mia menarik lepas lengannya dan menggandeng kedua anaknya. Melangkah dengan terburu-buru kearah lift meninggalkan George yang masih terdiam mematung. Masalah menjelaskan pada Steve nanti saja di rumah, yang terpenting saat ini adalah pergi dari situ dan menenangkan diri di rumah.
"Mom! Steve sama Alex tidak mau cuci muka dan sikat gigi tuuuh"
Steve yang masih setengah sadar berjalan bersama Alex--yang bergantung di kakinya bagai koala--perlahan ke arah ruang makan sambil sesekali menguap.
"Steve, Alex go wash your face!" dan hanya gerutuan tidak jelas yang keluar dari mulut Steve, "Or no Chocolate pie for you today~"
"What? No Mom! I want Choco pie!!" Alex yang masih setengah tidur di kaki Steve membelalakan matanya dan memasang wajah kesal, pai coklat merupakan kesukaannya dan Steve memang. Keduanya memiliki selera yang sama bahkan sifatnya hampir mirip.
"Mia, Jangan jahat begitu padaku... Kau tau tanpa Pai coklat hidupku tidak lengkap..." Ujar Steve dengan wajah memelas yang selalu berhasil membuat Altamyra tertawa.
"Kalau begitu cuci muka sana!" Tidak perlu menunggu lagi dan keduanya segera melesat ke kamar mandi untuk mencuci mukanya.
"Snack hari ini pai coklat mom?" Altamyra cemberut ketika mengucapkan kata coklat, kebanyakan anak kecil memang menyukai coklat tapi tidak untuk gadis kecil itu. Altamyra tidak menyukainya dia lebih suka makanan yang asin dibandingkan manis.
"Iya, Myra mau apa? Kau tidak suka coklat kan? mama akan buatkan sesuatu untukmu..."
Altamyra terdiam sejenak, berpikir sejenak. "I want... risola keju!"
"Risola? Ah risoles?" Mia memang pernah membuat makanan kesukaannya sewaktu di Indonesia itu, dan Saat Altamyra mencicipinya gadis itu bisa menghabiskan tiga buah sekaligus saking sukanya. "Baiklah, nanti mama buatkan..." Dan pagi itu suasana makan pagi terasa hangat seperti biasanya. Steve yang baru menghabiskan setengah sarapannya mendapatkan sebuah telepon dari kantornya yang membuat keningnya mengkerut kesal, Steve paling tidak suka bila di ganggu di pagi hari dan semua pegawainya tentu sudah tahu hal itu dan bila dia mendapatkan telepon berarti itu hal yang mendesak.
" Aku akan lembur malam ini, sialan."
"Sudah-sudah, sudah kubungkuskan kok pai coklatnya untuk kau bawa ke kantor... Nanti juga akan kubawa Alex dan Altamyra mengunjungi kantor, kau memerlukan bantuanku untuk mengecek perkembangan programku kan?" Mia memang sekali-kali mendatangi kantor Steve untuk mengecek programnya yang tengah dikembangkan oleh pegawai terbaik Steve. "Memangnya kenapa harus lembur?"
"Ada masalah sedikit, padahal hari ini ada kunjungan dari teman lamaku yang sedang studi banding di perusahaan di sini sekalian darmawisata... dan kau tahu aku lebih mementingkan teman dibanding perusahaanku sekarang. Jadi aku harus mengeceknya setelah temanku selesai yang kemungkinan akan sampai sore nanti."
Steve memang telah banyak berubah di bandingkan saat mereka pertama bertemu, dulu Steve terkenal egois dan hanya mementingkan perusahaannya tapi akhir-akhir ini dia lebih mementingkan orang sekitarnya semenjak Altamyra dan Alex lahir. Memang benar ya, saat seorang pria menjadi ayah akan banyak yang berubah, meski Steve bukan ayah kandungnya tapi Steve sudah menjadi sosok ayah yang baik bagi kedua anaknya itu.
"Yasudah, nanti sekalian kubawakan makan malam..." Steve tersenyum dan mengangguk, setelah menyelesaikan sarapannya dia segera bersiap-siap untuk pergi ke kantor.
"Dad! Be carefull 'kay~" Kedua anak kecil itu mengantar keberangkatan Steve seperti biasa dan setelah dicium oleh keduanya, Steve pun pergi dengan wajah berbunga. Mereka memang selalu bisa membuat hari-hari Steve dan Mia menjadi berbunga-bunga.
'v'
Mia menggandeng dua anaknya memasuki perusahaan Steve di siang hari, sedikit telat dari waktu yang telah dijanjikannya karena Mia tadi sempat tersedot ke dalam dunia imajinasinya. Kalau saja Alex tidak rewel pasti Mia sudah lupa akan janjinya pada Steve dan setelah menyiapkan segalanya ketiganya pun berangkat menggunakan bus. Mia memiliki mobil sebenarnya, tapi dia lebih suka menggunakan angkutan umum dan berjalan kaki karena selain menyehatkan juga mengajari kedua anaknya itu untuk tidak terlalu manja karena ada fasilitas. Semua pegawai mengangguk hormat saat Mia memasuki gedung berlantai puluhan itu, "Alex, Myra. Go bring these to Steve and don't forget to use english 'kay?"
Mereka di rumah terbiasa menggunakan bahasa indonesia dan inggris, membuat kedua anaknya terkadang lupa untuk menggunakan bahasa inggris di luar rumah. Alex dan Altamyra menerima tas berisi bekal Steve dan cemilan untuk keduanya lalu berlari menuju front office yang akan segera mengantarkannya pada Steve, sedangkan Mia menuju lift untuk pergi ke lantai 20 dimana ruangan tempat pengembangan programnya berada.
Mia memang sudah biasa meninggalkan anaknya pada pegawai kantor ini karena hampir semua pegawai kantor sudah mengenalnya dan lagi Mia tidak bisa mengajak keduanya untuk mengikutinya ke tempat pengembangan programnya karena pasti akan rewel saking bosannya.
"Baiklah... Saatnya meninjau..." Meski sebenarnya Mia tidak terlalu diperlukan tapi Mia bukan tipe orang yang bisa langsung melepas tanggung jawab, dia memang percaya tapi tetap harus memantau perkembangannya secara berkala dan tidak ada yang keberatan dengan hal itu.
Alex dan Altamyra bergandengan tangan sambil mengikuti petugas keamanan yang berjalan selangkah di depannya, dia yang mengantar mereka ke tempat Steve berada. Steve saat ini berada di lantai 20 sama seperti Mia namun berbeda ruangan, kalau saja Mia tahu mungkin Mia-lah yang akan mengantarnya tapi karena biasanya Steve berada di kantornya yang berbeda lantai membuat Mia selalu menyerahkan tugas mengantar anaknya pada pegawai keamanan maupun staff front office yang sedang senggang.
"Daddy!" Alex berlari menerjang Steve setelah petugas itu membukakan pintu sedangkan Altamyra masih berjalan perlahan di belakangnya.
"Alex! Behave" Altamyra merengut kesal akan sikap Alex yang tidak memperdulikan sekitar, padahal jelas-jelas ada orang lain yang berada di ruangan itu.
"Oh, Alex Altamyra kalian sudah datang?"Steve menggendong Alex dan mempersilahkan petugas itu pergi setelah mengucapkan terimakasih. "Apa yang kalian bawa hm?"
"Pai coklat buatan mama!" Ujar Alex dengan bersemangat sambil berharap dirinya bisa ikutan memakan makanan kesukaannya itu. Atamyra hanya mendengus kesal karena dicueki Alex, "Myra bawa Rise--umm risola keju untuk makan siangku dan bekal untuk makan malam daddy..." Ujarnya sambil menyerahkan bungkusan yang dibawanya pada Steve.
"Steve mereka anakmu? Sejak kapan kau menikah?" Alex dan Myra memandang lelaki yang melontarkan pertanyaan tersebut, sesaat kedua anak kecil itu memandang dengan polos dan ketika Myra menyadari warna mata pria itu--Aqua blue, yang sama dengan warna matanya dan Alex--seketika itu juga Myra tidak menyukai pria itu.
"Mereka sebenarnya bukan anakku, tapi aku sudah menganggapnya sebagai anak kandungku Georg..."
"Meski bukan ayah kandungku Steve adalah Ayahku seorang!" Ujar Myra dengan garangnya pada pria bernama Georg itu. "and no one can replace him!" Steve senang tentu saja, tapi sedikit heran melihat tingkah Altamyra yang biasanya tenang tiba-tiba menjadi emosi seperti ini.
"Myra! Dia punya warna mata yang sama dengan kita!" celetuknya ketika menyadari hal itu. Myra hanya membuang muka dan menggerutu 'aku juga tau alex bodoh'.
George mengacak-acak rambut Alex dan tersenyum ramah. "Warna mata yang jarang dimiliki orang, kau harus bersyukur..." Alex hanya tersenyum senang dan dengan semangatnya menjawab iya, "Mereka lucu... Alex dan Myra bukan?"
"Yeah, Alex myra perkenalkan dirimu pada sahabat Ayah, jangan nakal ya..." Ujarnya khusus pada Altamyra yang masih tidak ingin melihat George.
"Alex Steford! dan adik perempuanku Altamyra Steford" Alex memperkenalkan dirinya dan adiknya yang pastinya tidak ingin memperkenalkan diri.
"Dad, masih lama? kalau iya aku ingin menemui mama saja..."
"Mama kan sedang kerja, kau pasti bosan ... bagaimana kalau kita makan siang? George mau ikut? Pai buatan Mia sangat enak loh dan juga resoles keju kesukaannya yang paling enak!" Steve menggandeng Altamyra yang masih saja memasang wajah merengut kesal saat Steve mengajak George ikut makan siang.
"Resoles keju ya.. dia juga sangat menyukainya..." George tersenyum sedih ketika mengucapkan kata dia, "Baiklah, sudah lama aku tidak memakan makanan itu." keempat orang tersebut berjalan menuju lift dan ketika pintu lift menutup samar-samar George mendengar suara yang familiar di telinganya, suara wanita yang hilang delapan tahun yang lalu. "Ah mungkin hanya perrasaanku saja" Bisik George pada dirinya sendiri.
'v'
Mia tersenyum senang melihat perkembangan tenaga terbaik steve yang menangani program komputer yang dicetuskannya, sedikit lagi Mia tidak perlu ikut campur urusan pengembangannya karena hampir seluruh programnnya mampu mereka pahami dan kembangkan sendiri. Meski ada kegagalan sedikit tapi mereka tidak akan menyerah.
"Good Job guys, sedikit lagi dan aku bisa lepas tangan... tapi kalian kalau perlu bantuan hubungi saja aku tidak masalah kok." Ujarnya sembari menepuk punggung ketua tim pengembangan yang mengantarnya ke depan pintu. Mia berbalik dan menuju pintu lift yang akan membawanya ke kantor steve, mungkin mereka sedang makan cemilan yang dibawakannya melihat jam makan siang yang tinggal beberapa menit lagi.
Mia menekan tombol lift yang akan mengantarnya ke tempat Steve berada, dia hendak mengambil kedua anaknya sekalian makan bersama mereka di kantor Steve tentu saja, Mia membawa banyak makanan tadi dan lagi masih ada di dalam tasnya satu pack untuk makan malam Steve.
Mia berjalan perlahan menuju kantornya, setelah mengucapkan salam pada sekertarisnya dan menititpkan makan malamnya pada sekertarisnya Mei melangkah masuk ke dalam kantornya, membuka pintu tanpa mengetuknya.
"Steve.. makan malammu ku titipkan pada Si--" Mia terdiam sebelum menyelesaikan kalimatnya, membeku di depan pintu masih sambil memegang knop pintunya. Matanya terfokus pada pemuda yang memiliki iris yang sama dengan kedua anaknya, tubuhnya kaku tak bisa di gerakannya.
"A-a.. am i interrupted you Steve?" Ujarnya ketika berhasil meraih kesadarannya, Mia berusaha tidak menatap George dan menfokuskan pandangan matanya pada Steve yang masih menggendong alex. Meskipun Mia yakin George tidak akan menyadari bahwa Mia adalah Rina tetap saja dirinya takut, Mia memang mengalami banyak perubahan dibandingkan saat kuliah dulu. Kini tubuhnya jauh lebih berisi dibandingkan saat kuliah, beruntung pula hari ini Mia mengenakan lensa mata dan mengecat rambutnya beberapa hari yang lalu.
"Ah No.. Kau datang tepat waktu Mia, kami akan makan siang dan pastinya kau akan ikut bukan?"
"Ye-yeah Ofcourse... aku benar-benar lapar kau tahu" Mia melepaskan pegangannya pada ganggang pintu, menutupnya setelah melangkah masuk dan berjalan perlahan menuju meja yang tersedia untuk tamu di kantor Steve. Mia segera duduk tepat di sebelah Steve dan memangku Myra yang masih saja terdiam.
"Dia temanmu yang kau ceritakan saat sarapan tadi Steve?" Steve hanya mengangguk sembari membongkar bekal makan siang mereka, dessert dan risoles kejunya akan dimakan setelah makan siang tentu saja. "Well Perkenalkan, Mia Steford" Mia mengulurkan tangan pada George yang masih terdiam sedaritadi yang menatapnya penuh selidik, tatapan itu semakin tajam saat menyambut uluran tangan Mia dan menyebutkan namanya dengan tajam "George''.
Mia sekilas melihat cincin yang melingkar ditangan George, cincin pernikahan. Ternyata memang benar apa yang dipikirkannya dulu, George sudah menikah dan mungkin itu dengan sahabatnya. Tak bisa dipungkiri, sejujurnya Mia sedih dan kecewa tapi hal itu tak ditunjukannya saat ini. Mia hanya tersenyum manis, memasang topengnya kembali, mekipun selama ini Mia tidak mengenakan topengnya tapi Mia tetap yakin. Kemampuan memasang topengnya tidak akan pernah menurun.
Selama makan siang Mia mencoba menfokuskan dirinya pada Myra yang tiba-tiba saja menjadi sangat manja di hari itu, "Berhenti menatap Mommy!" Alex berteriak sesaat setelah selesai melahap pie coklat miliknya. George menatap pemuda kecil itu dan tersenyum. "I am sorry kiddo, Aku hanya... merasa pernah melihat ibumu"
"Jangan cari alasan!!"
"Alex." Alex sebenarnya masih ingin berteriak kesal, tapi mendengar nada bicara ibunya yang tajam membuatnya terdiam seketika dan kembali mengambil sepotong pie coklat.
"Maafkan Alex, dia hanya sedikit overprotektif padaku ahahaha" Mia terkekeh geli, "Adakah seorang yang mirip denganku?"
"Aku tidak bilang mirip... aku berkata merasa pernah melihatmu" Ujar George penuh penekanan disetiap katanya, membuat Mia terkejut.
"Ah, i-itu karena aku tidak pernah merasa melihatmu jadi kupikir kau .. aku.. emm ada yang mirip denganku"
Steve memandang Mia yang gelisah dengan heran, tidak seperrti biasanya Mia terkesan gelisah dan gugup. Steve segera mengalihkan perrhatian George pada dirinya, "Kau sudah menikah George? Kenapa tidak mengajak istrimu?"
'Bagus, pertanyaan yang sangat ingin kuhindari malah ditanyakan steve...' Mia menghela nafas lelah, ingin rasanya pulang tapi Mia juga penasaran.
"Ya..." George yang mengalihkan pandangannya pada Steve kembali memandang Mia, "Rina.."
Tubuh Mia tegang mendengar nama yang dulunya dia gunakan disebutkan George dengan sangat jelas, pandangannya dialihkan kearah lain. Mia meremas ujung gaun miliknya hingga kusut, mencoba menghilangkan ketegangannya. sembari menggumamkan mantra bahwa dia salah dengar, mungkin yang dimaksudkan Lina bukan Rina.
"Dia menghilang beberapa tahun yang lalu, tapi sepertinya kini telah kutemukan kembali..." George bangkit dari kursinya, berjalan kearah Mia dan menatapnya dengan tajam. "Right. Rina? I Mean.. Mia Steford?"
"A-ahaha Apa maksudmu Georg? W-who is Rina?" Mia menunduk, mengalihkan pandangannya kebawah demi menghindari tatapan Georg
"Berhenti mengalihkan pandanganmu dan tatap mataku Rina"
"H-huh? Me? I am Mia.... bukankah aku telah memperkenalkan diriku tadi?"
"Ah.. kau pikir mengganti namamu dan penampilanmu mampu menipuku yang telah mengenalmu sangat lama?"
Mia hanya terdiam, mengangkat wajahnya dan tersenyum miris, Remasan tangannya pada gaunnya di lepaskannya. Mia memeluk Myra yang masih di pangkuannya dengan posesif.
"Aku benar-benar tidak tahu siapa Rina, Mungkin kau salah orang?" Mia menoleh ke arah Steve "Steve aku pulang dulu saja, rasanya perutku mual, Ayo Alex kita pulang"
Mia segera berdiri, menurunkan Myra yang segera menggandeng Alex dan berjalan mengikuti ibunya.
"Jangan kau coba-coba untuk pergi lagi!" Georg menahan lengan Mia dan menariknya agar Mia menghadap dirinya. "Kau tidak tahu betapa sedihnya tante akan kepergianmu? Kematian palsumu! Aku sudah merasa aneh saat itu, kau tidak mungkin mati dengan mudahnya! kembalilah Rina, Ibumu sangat sedih.... ibumu, ayahmu, Lina"
"Aa... Apakah kematianku menyulitkanmu?" Mia mendengus, senyum miris tidak lepas dari wajahnya. "Bukankah dengan kematianku kau jadi bisa menikah dengan Lina atau wanita yang kau mau? Cincin pernikahan itu bukanlah cincin perrnikahanmu denganku... Jadi bukankah kau sudah bahagia bersama gadis lain? bukankah kau yang menginginkan kematianku? kau saat itu ingin bercerai bukan? dan dengan kematianku mempermudah semuanya?Anggaplah pertemuan ini tidak ada. Aku Mia Steford, Rina telah mati"
Mia menarik lepas lengannya dan menggandeng kedua anaknya. Melangkah dengan terburu-buru kearah lift meninggalkan George yang masih terdiam mematung. Masalah menjelaskan pada Steve nanti saja di rumah, yang terpenting saat ini adalah pergi dari situ dan menenangkan diri di rumah.
TBC
Maaf kan kalau ada typo ya~
Silahkan menikmati dan prediksi chapter berikutnya entah kapan.
Tergantung mood penulis ohohohoh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar