Selasa, 03 November 2015

Dandelion

Do you believe a happy ending? 

I am not. There is no such a thing like happy ending in real life, in my life especially. Sure there is, in fantasy world but no, there is never exist a happy ending in MY life.

Kehidupan yang kita jalani merupakan suatu cerita dengan ending yang tidak bisa ditebak, akan kemana jalan hidup kita berakhir, akankah bahagia?Ataukah sedih? 

Pengasuhku pernah berkata 'Kita adalah tokoh utama di kehidupan kita masing-masing' Awalnya aku percaya dengan apa yang dikatakan pengasuhku itu tapi semakin tua aku mulai meragukannya.Aku bukanlah tokoh utama dalam cerita ini, mungkin aku sebenarnya adalah tokoh jahat yang ada di setiap cerita. Tokoh yang seharusnya berakhir sedih, tokoh yang tidak pernah tertuliskan endingnya di cerita manapun namun bisa ditebak bagaimana hidupnya akan berlanjut. Tokoh yang akan menjalani hidupnya dengan penuh kesialan yang pasti. Dan aku adalah tokoh  itu.

Mengapa aku berpikir seperti itu? Karena bila aku bukan tokoh antagonis melainkan tokoh protagonis seharusnya aku mendapatkan 'ending' yang bahagia bukan? Harusnya pernikahan yang sudah kujalani beberapa tahun ini menjadi pernikahan yang menyenangkan. Seharusnya pernikahan itu menjadi momen dimana sepasang insan yang saling mencintai satu sama lain. Tapi... Pernikahanku merupakan awal dari kehancuranku sendiri. Awalnya kau berpikir aku telah berhasil membuatnya berpaling padaku, membuatnya menyadari bahwa yang dia cintai adalah aku bukannya kakakku yang telah menikah dengan orang yang dia cintai. Awalnya kau berpikir pernikahanku adalah pernikahan yang paling indah yang hanya kujalani sekali seumur hidupku. Senyumnya, sikapnya dan perkataannya yang manis itu sama sekali tidak pernah kuragukan. 

Namun salah, apa yang kupikirkan itu Salah besar. Dia terpaksa menikahiku, senyumanya, sikapnya dan perkataannya palsu dan aku menyadarinya setelah menikah. Sikapnya berubah, dia memang tidak menyakitiku secara fisik,  dia memang menyentuhku tapi hanya sebatas kebutuhan biologis saja, hanya sebatas pemuas. Mungkin sebenarnya jauh di dalam hatiku aku menyadarinya, hanya saja cinta yang kumiliki untuknya menghalangi hatiku untuk menyadarinya.

Aku tidak ingin mengatakan ini tapi aku menyesal, aku menyesal bertemu dengannya, aku menyesal mengenal dirinya, aku menyesal jatuh cinta padanya, aku menyesal buta akan cinta. 

Bodoh... betapa bodohnya diriku ini yang dibuat buta oleh rasa cinta, membuatku buta akan kenyataan. Tapi apa yng bisa kuperbuat? Semua sudah terjadi takkan ada yang bisa kulakukan untuk merubah apa yang terjadi. Seandainya saja bisa kuputar waktuku, akan kulakukan apapun resikonya. 

.-.

Perlahan  kelopak mata gadis itu terbuka, dia terbangun diwaktu yang sama setiap harinya, semenjak kenyataan yang sulit diterimanya dia ketahui. Entah sudah berapa lama dia mengalami hal ini. Setengah tahun kah? Satu tahun kah? Entah, gadis itu tidak pernah lagi menghitung harinya mengalami tekanan batin yang membuatnya selalu bangun pada jam satu pagi. Setiap pagi pada jam itu dia akan terbangun dan tidak akan bisa tertidur sebelum beberapa jam berlalu seperti biasanya. Perlahan dia membuaka selimutnya, memakai gaun tidur miliknya tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Kakinya melangkah ke balkon apartemennya setelah membuat susu hangat untuk temannya menghadapi angin malam. Dia duduk di balkon memandangi langit yang bertabur bintang sambil meminum susu hangatnya hingga merasa mengantuk. Sesekali dia melihat suaminya yang tertidur lelap di atas tempat tidur yang berada di balik kaca yang memisahkan balkon dengan kamarnya itu. Wajahnya yang dulu cerah itu menjadi mendung, meski dia tetap berusaha tersenyum tapi topeng itu bisa retak sewaktu-waktu dan hancur berkeping-keping seperti saat ini. Sesungguhnya dia lelah, lelah menjalani kehidupannya. Seandainya saja ada kesempatan untuknya merubah kehidupannya ini rasanya ingind ia ambil kesempatan itu sebelum akal sehatnya menghilang. Tapi pikiran dan hatinya tidak sejalan, dia ingin merubahnya tapi hatinya tidak mau menurutinya. 

Setetes air bening menetes dari ujung matanya, air mata yang selalu menetes setiap malamnya. Selalu menets ketika mengingat igauan nama yang keluar dari mulut suaminya setiap kali menyentuhnya. Suaminya mungkin tidak sadarakan hal itu dan Rina , gadis itu, hanya menyimpannya terus di dalam hatinya agar tidak menghancurkan apa yang sudah dia bangun ini.  Memang akhir-akhir ini suaminya sudah tidak  mengigau nama kakaknya lagi tapi, kesedihannya belum berakhir dan masalah yang kembali timbul itu menyadarkannya akan satu hal yang tidak ingin dia ketahui.

George tidak akan pernah menyerahkan hatinya padanya.

Tidak akan pernah.

.-.

"Rinaaaaa!Selamat pagii" Gadis berwajah oriental dan memiliki senyum manis itu berlari kecil menghampiri Rina yang tengah menunggu dosen di depan kelas.

"Pagi Lin" Elina, nama gadis itu. Gadis cantik dengan kulit kuning langsatnya, wajah oriental dan perawakan imut itu sangat populer di jurusannya, sebenarnya bukan hanya jurusannya tapi hampir seluruh kampus mengenal gadis mungil itu. Gadis populer yang berbeda dengan Erna, Erina memang bukan gadis cupu, Rina cantik hanya saja bila disandingkan dengan Elina  kecantikannya tidak sebanding dengan Elina.

"Rin dengar deeh, Pak George mengesalkan! Memberi tugas banyak banget. Uuh, mana kerjaan dari dosen lain juga belum kukerjain..." 

Rina hanya tersenyum kecut ketika mendengar nama suaminya disebut, suaminya memang merupakan dosen di kampusnya tapi tentu saja status bahwa Erina adalah istrinya dirahasiakannya dengan sangat rapat. "Kenapa ambil kelasnya kalau begitu? Kan dia memang terkenal suka kasih tugas banyak dan sulit..."

"Habisnya... Pak George ganteng" Wajah Elina memerah sambil tertawa malu-malu. Banyak memang gadis yang menyukai suaminya itu. Bagaimana tidak? Perawakannya yang tegap, tegas, matanya yang biru sebiru laut sikapnya yang sangat gentleman itu, wajahnya yang tampan pasti bisa membuat luluh gadis manapun. Elina pun tidak luput dai pesonanya,  Elina tertawan ketika pertama kali melihat George, "Biar saja Pak George sudah punya istri, toh setiap ditanyain cuman diam saja, itu artinya dia tidak mencintai istrinya kan? Dan lagi aku tidak pernah melihat cincin kawinnya loh!"

"Ya.. Dia memang tidak mencintai istrinya" Rina tersenyum, yang bila di amati dengan seksama senyum itu sarat akan kesedihan yang mendalam, "Mungkin? Ahaha yah, mana kutahu" Memang sudah tersebar bahwa George memiliki istri entah siapa yang menyebarkan kenyataan itu, tapi tidak ada yang tahu siapa istrinya. Rina sendiri sudah di wanti-wanti agar tidak membocorkannya pada siapapun dan Rina hanya bisa mengiyakan saja.

"Ya pasti begitu! Kalau tidak tidak mungkin kan Pak george menanggapiku! Pokoknya akan kudapatkan dia!" Rina hanya tersenyum menanggapinya, tidak menyemangati maupun mencegahnya.

"Dan mungkin kau akan mendapatkannya Lin..." Ucap Rina dalam hatinya.



Rina  berteman dengan Lina sejak awal masuk perguruan tinggi ini dan karena sifatnya yang blak-blakan dan tidak munafik membuatnya  bisa bersahabat dengan gadis itu dan Rina tulus menyayangi gadis itu sebagai sahabatnya. Karenanya Rina akan memilih mundur bila saatnya tiba, dia tidak ingin kehilangan teman terlebih sahabatnya untuk yang kedua kalinya hanya karena cinta.

Seusai kelas dihari itu Rina dan Lina seperti biasanya nongkrongdi café dekat kos-kosan Lina, sebenarnya Lina mempunyai sodara yang tinggal di Yogya akan tetapi Lina lebih memilih kos sendiri dengan alasan agar lebih mandiri.

“Setelah ini mau kemana Rin?” Lina memandang Rina yang tengah asyik memakan kue tiramisu miliknya.

“Kerja” Jawabnya singkat sambil terus memakan kue yang tinggal setengah itu.

Lina meletakkan hot chocholatte miliknya dan menghela nafas, “Lagi? Well… Steve memang sedikit mengesalkan memang kalau tidak dituruti keinginannya…” Steve merupakan saudara Lina, bekerja di jogja sementara tapi memang dia memiliki tempat tinggal tetap di sini dia memiliki perusahaan yang berpusat di new York dan memiliki cabang di jogja yang tengah menghadapi masalah—yang sebenarnya tidak perlu campur tangan steve tapi karena steve ingin dan sekalian jalan-jalan di jogja setelah sekian lama tidak pulang membuat pemuda itu berada di sini. Steve bertemu Rina ketika dia magang di perusahaannya dan melihat kinerja Rina membuat Steve menyukai Rina dan merekrutnya—secara paksa—untuk bekerja paruh waktu disana. “Jangan-jangan.. steve menyukaimu? Wah... tidak kusangka akhirnya Steve jatuh cinta juga ahaha dia maniak kerja sih, tidak peduli dengan orang sekitar padahal kan wajahnya ganteng…”

“Tidak mungkin ah…” Karena dia tahu bahwa Rina sudah memiliki suami, steve satu-satunya pria yang mengetahui kenyataan akan kehidupannya, entah kenapa Rina bisa bercerita dengan terbuka padanya setelah kehilangan tempatnya bercerita bertahun-tahun lalu.

 “Tapi itu Cuma perasaanku saja sih, “Lina mengangkat bahunya, menyudahi percakapan soal perasaan Steve yang entah benar atau tidak. “Tapi bentar lagi kau bisa tenang Rin, Steve sudah akan kembali ke New York kok,  katanya liburannya sudah seleai dan masalah sudah selesai—sejak lama kalau perlu kuberitahu. Yah alasan dia kesini sebenarnya sekalian liburan saja sih tuh. Setelah itu kau bisa berhenti dan menikmati masa mudamu! Ahahahah”

“Iya, tapi kan gajinya lumayan lin…”

“He?” Lina memandang Rina heran, “Kau kan sudah kaya, banyak duit kenapa harus kerja lagi coba? Uang tinggal minta ortu kan? Kalau alasan pengalaman kerja buat nanti lulus sih kau kan bisa masuk perusahaan ayahmu saja dan lebih baik suruh pegawai dari pada disuruh kan?”

Rina menghela nafas lelah, ingin mendebat pun percuma. Mindset mereka sudah beda dan Lina bukan tipe yang bsia dirubah untuk menyesuaikan mindset Rina. “Iya sih ya…” Dan hanya itu yang akhirnya keluar dari mulut Rina,  terkadang Rina meragukan—sangat—alaan Lina ngekos dengan alasan mandiri. Ingin mandiri tapi tidak bekerja paruh waktu untuk biaya hidupnya , tapi itu bukan urusan Rina sih. Biarkan sajalah. “Kau kemana setelah ini?” Sebaiknya ganti topic saja deh.

Lina tersenyum cerah dengan wajah berbunga-bunga, “Kencan! Dan kau tahu dengan siapa? Dengan Pak George!! Aaahhh senangnyaaaa”  Rina hanya tersenyum menanggapi, dia tahu tapi mendengarnya lumayan sakit juga. Tadi sebelum ke café George sudah memberitahunya lewat SMS yang hanya dia pandangi dengan tatapan mata kosong dan menghela nafas pasrah, mau melarang juga percuma. “Ah sudah jam segini Aku pulang dulu deh yaa mau dandan total agar bisa mendapatkan dosen ganteng itu. Bye Rin, besok kuceritain detailnya deh” Lina mengedipkan matanya dan segera berlalu pergi dengan penuh semangat.

“Nanti malam juga pasti aku tahu detailnya lin… dari dia” Ujarnya lirih setelah sahabatnya itu pergi. Kuenya tinggal yang sedikit tidak ingin dia habiskan dan hanya dia pandangi, dia hanya menyesap coklat hangat miliknya untuk menenangkan pikirannya yang mulai kalut. Setelah beberapa menit berlalu akhirnya Rina melangkah pergi ke tempat kerjanya.

.-.

“Hari ini kencan dengan gadis oriental itu sangat menyenangkan.. siapa tadi namanya?” Obrolan sebelum tidur selalu menjadi kegiatan rutin kami, terlihat mesra tapi isi obrolannya hanya membuat Rina ingin menulikan pendengarannya. Menceritakan gadis lain setelah menyentuhnya, siapa yang mau mendengarnya?

“Elina..” Jawab Rina singkat sambil menatap langit kamarnya, tidak ingin mendengar pun percuma karena mereka sedekat ini dan Rina sudah kebal setidaknya hal ini tidak membuatnya segera berpura-pura tidur seperti sebelum-sebelumnya.

“Nah itu dia! Gadis cantik dengan kulilt yang sangat halus, perhatian feminism pula. Ah menyenangkan sekali menyentuhnya.” Lina terus memandang langit-langit kamar, tidak ingin melihat suaminya itu yang mungkin sedang memasang wajah yang berseri-seri dan bersemangat.

“Ya memang cantik…”Bila dibandingkan dengan Rina.  

“Dan selesai berkencan dia menyatakan perasaannya padaku loh! Menurutmu bagaimana?”

Ingin rasanya berteriak ‘Bagaimana gundulmu!!!’ Tapi tentu sdaja dia tidak bisa melakukannnya dan hanya bisa berkata “terserah’’. Istri mana yang mau mendengar, melihat mengetahui suaminya berselingkuh secara terang-terangan? Dan ini bukan kali pertama entah sudah berapa kali.  Setelah Rina mengetahui bahwa George tidak benar-benar menyukainya George mulai menceritakan sendiri mengenai dirinya yang berkencan dengan para gadis, setiap detailnya, dan setiap kali dia menceritakannya hati Rina hancur berkeping-keping dan yang jauh lebih buruk lagi Rina sudah merasa terbiasa dengan hal itu dan tidak lagi mempermasalahkannya. Bahkan dia tidak pernah mencoba untuk melarangnya karena Rina takut, takut bila George pergi meninggalkannya dan hal itu merupakan kesalahan terburuknya. Rina berharap suaminya akan berhenti dan berpikir hanya boan saja, tapi ternyata perkiraannya salah.

“Baiklah kalau begitu… aku akan menerimanya saja, sudah lumayan lama aku tidak memiliki pacar lagi.” 

Rina terdiam cukup lama—mencoba membuat dirinya tenang terlebih dahulu sebelum menanggapi—“Jadikanlah dia yang terakhir… Jangan kau sakiti Lina” Seperti kau menyakiti diriku.

“Selamat tidur” Dan sebelum George sempat menjawab Lina segera berbalik memiringkan tubuhnya dan menutup matanya. Berharap tidak akan pernah terbangun untuk selamanya, tertidur dalam damai dan terjebak didunia mimpinya. Hal yang mungkin jauh lebih baik dibandingkan berada di dunia nyata yang melukai hatinya yang sudah hancur berkeping-keping.

Sayang, seperti malam-malam sebelumnya, Rina kembali terbangun di pukul satu pagi dan dia menghabiskan waktu di balkon memandangi langit dengan segelas susu hangat. 

“Mungkin… sudah waktunya?” Tanyanya entah pada siapa, didekapnya kedua lututnya dan menaruh dagunya di atas kedua lututnya. “Waktuku untuk berhenti bersikap bodoh, untuk merubah hidupku…” Ujarnya lirih.

Cerai, mungkin satu hal yang dipikirkan pasangan yang memilih masalah yang sama dengan Rina tapi tidak untuknya. Ibunya, ayahnya dan keluarganya sama sekali tidak mengetahui masalahnya dan menganggap keluarga rina mesra dan juga tak memiliki masalah. Ditambah lagi Ibunya sangat menyukai George dan mempercayainya jauh melebihi rasa percayanya pada Rina, ayahnya pun tidak jauh berbeda. Mungkin tawaran steve untuk ikut dengannya ke New York bisa dipertimbangkannya. MAsalahnya bagaimana caranya agar Rina bisa pergi kesana tanpa ada yang mengetahuinya? Waktunya tiga minggu lagi. Rina harus membuat keberadaannya hilang selamanya dari orang-orang yang mengenalnya, agar mereka mengira gadis yang bernama Rina tidak ada lagi di dunia ini. Agar George bisa lepas dari dirinya dan agar Rina mendapatkan kembali akal sehatnya yang mulai menipis. Setelah lama berpikir Rina akhirnya mendapatkan ide yang bagus, yang bisa digunakannya untuk menghilangkan keberadaannya.

Esok paginya Rina menelepon seseorang yang sangat dia kenal, “Kak Dua  minggu lagi ada pendakian kan? Rina ikut yah, seminggu kan? Oke, nanti  rapatnya? Oke aku datang. thanks”

George memandang Rina dengan tatapan heran.

“Cuman mendaki gunung seminggu kok, aku janji ini yang terakhir… Kalau ketahuan mama bilang saja kau sudah melarangku.”

George terdiam cukup lama sambil membetulkan dasinya, “Terserah saja, aku tak peduli” Dan setelah mengambil tas kerjanya George pergi berangkat ke kampus.

Lina mendudukan dirinya di sofa depan tv dan menghela nafas, setlah memastika George pergi Rina menunduk dan menggiggit bibir bawahnya hingga sedikit terluka, “Aku tahu… kau tidak akan pernah peduli… dan kupastikan ini terakhir kalinya kau melihatku berada disisimu” Rina mengeluarkan handphone miliknya dan menelepon Steve, menceritakan rencananya dan meminta bantuannya . Dua minggu waktu yang cukup lama untuk mempersiapkan segalanya. Rencana ini sebenarnya sudah dia rencanakan jauh-jauh hari, dan hal itulah yang membuatnya bergabung dengan klub pendakian gunung di kampusnya. Kasus orang hilang digunung sudah banyak terjadi kan? Orang hilang yang tidak pernah ditemukan lagi dan agar tidak curiga Rina sudah bergabung jauh-jauh hari dan menunggu waktu kapan bsia dilancarkan rencananya itu. Ini adalah saatnya.

Siang harinya Rina makan bersama Lina yang bersemangat menceritakan kencannya dengan dosen favoritnya, menceritakan sedetail mungkin kejadian kemarin yang hanya Rina tanggapi dengan senyum palsunya dan sesekali bertanya untuk memastikan Lina dirinya tertarik dan mendengarkannya.

“Dan Lin.. tadi pak George menelponku dan memintaku bertemu.. Setelah bertemu kau tahu dia bilang apa? Dia menerima pernyataan cintaku rin! Kami berpacaran Rin!! Benarkan kataku dia tidak menyukai istrinya, mungkin istrinya itu jelek kali ya? Atau gendut? Atau snagat buruk rupa atau hanya istri yang matre? Ah aku tidak peduli yang pasti aku akan menjadikan dia milikku!”

Rina terdiam cukup lama, Rina tahu sangat tahu bahwa George akan benar-benar menerima Lina, tapi tetap saja mendengarnya terasa menyakitkan. “Selamat ya” Rina tersenyum.

“Dan lihat nih!” Lina menunjukkan jari tangannya pada Rina, matanya tertuju pada cincin yang melingkar dijari manisnya. “Jangan-jangan  ini maksudnya melamarku? Jangan-jangan dia akan bercerai dan ingin menikah denganku? Kyaaah Pokoknya kalau aku nikah kau akan datang kan? Kan kan?”

Rina hanya menganguk sambil tersenyum, sedikit terkejut dengan cincin yang baru saja dilihatnya itu. Cincin yang seharusnya diberikannya pada kakaknya kini berada di jari manis Lina. Mungkinkah?Mungkinkah George benar-benar mencintai Lina? 

“Ah itu George! Mau makan siang bersaama tidak ya? Akan kuundang deh ya, Rin tunggu sini ya aku akan mengajaknya makan bersama kita. Rina tidak menanggapi, toh menanggapi pun percuma karena Lina sudah berlari kearah George dan mengajaknya makan bersama.

Rina hanya tersenyum kecut pada George yang memandangnya, dipalingkannya mukanya saat Lina merangkul lengan suaminya itu dan berbisik pada dirinya sendiri. “Ini terakhir kalinya Rin…” dikepalkannya seerat mungkin tangan kirinya hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangannya agar Rina tidak menangis ditempat itu. Selama makan siang Rina mencoba bersikap biasa ketika melihat kemesraan George dan Lina, sikap George yang benar-benar perhatian pada Lina membuatnya teringat perlakuan George pada kakaknya dan detik berikutnya Rina yakin bahwa George memang akan memperlakukan Lina seperti dia memperlakukan kakaknya.

Perlahan dilepaskannya kepalan tangannya yang mulai melikai telapak tangannya, memandang tulus pada kedua pasangan di depannya itu dan berkata, “Selamat untuk kalian… “Ujarnya dengan senyuman tulus. “Dan karena aku ada kelas aku duluan ya… Oh kalian tentu akan membayarkan makananku kan? Pajak jadian” Dikedipkannya sebelah matanya pada Lina dan tertawa kecil.  Lina menyampirkan tas miliknya di bahunya dan pergi ke kampusnya.  Sebenarnya Rina tidak perlu lagi ke kampus toh sebentar lagi dia akan pergi selamanya dari kampus itu tapi untuk menghindari kecurigaan Rina tetap ke kampus seperti biasanya, menjalani hari-hari seperti biasanya dan menjalankan tugasnya seperti biasanya.  


.-.

Beberapa minggu kemudian di kediaman Keluarga Rina dipenuhi dengan tangisan dan teriakan tidak percaya dari nyonya rumah kediaman itu, mama Rina berteriak histeris ketika mendengar kabar hilangnya Rina di gunung. George memegang bahu ibunya dan mengelus punggungnya menenagkan, “Maafkan aku ma… Harusnya aku mencegahnya lebih keras ma… maafkan aku ma…” Ujar George dengan nada yang penuh kesedihan.

“Rina anakku sayang… Kenapa kau begitu egosi nak… Harusnya kau menuruti apa kata suamimu nak“ Mama Rina sama sekali tidak menyalahkan George, dia percaya George pasti sudah melarang Rina dan Rina tetap saja bersikukuh untuk pergi mendaki. Sebulan penuh kediaman itu berduka sambil berharap Rina bisa ditemukan dalam keadaan selamat.

Elina sendiri tidak percaya akan kenyataan bahwa sahabatnya hilang digunung dan merasa menyesal setelah makan siang itu Elina tidak menghabiskan waktunya dengan Rina dia sama sekali tidak menyangka bahwa itu terakhir kalinya mereka bisa makan siang bersama.

New York, 

“Rin, Kau yakin dengan memalsukan kematianmu, mengubah identitasmu dan ikut ke new York bersamaku?” Steve melirik Rina sekilas yang tengah menutup matanya mencoba rileks di kursi mobilnya.

“Berapa kali kau bertanya Steve? Semua sudah terjadi dan terlambat untuk mengubahnya. Dan mulai sekarang aku adalah Mia Trefold, Ingat itu.” Dia membuka matanya dan menatap jalanan yang dipenuhi dengan cahaya lampu. “Bukankah kita sudah setuju? Akan kuberikan program softwareku padamu dan membantu mengembangkannya tapi kau harus membantuku menyembunyikanku dari semuanya bahkan dari saudaramu itu.

Steve menghela nafas panjang, dan dalam diam dia melanjutkan perjalanannya menuju rumah yang akan mereka tinggali.

“Steve, mampir makan dulu yuk kapar lagi nih… Dan aku ingin steak.”

“Kau sudah makan di pesawat tadi kan? Masih kurang?”

“Yap!” Dan tanpa mencegahnya dan mendebatnya Steve membawa Rina—Mia ke restoran terdekat untuk mengisi perut Mia.
 
END?


Aloha!!
Selamat menikmati cerita yang kutulis saat baper ini *nyebar virus baper*
Sebenarnya masih ada ide kelanjutannya cerita ini....
Tapi nggak janji sih ya bakal kutulis atau tidak ufu #PHPoi!

Dandelion Chapter 2 

1 komentar:

  1. BAVER !(pengen gampar suaminya :v ) tapi keren ... Lanjutkan oke

    BalasHapus